Sabtu, 10 Oktober 2015

Cerita Usang



Malam ini aku membuka gallery handphone adikku yang baru pulang dari kampoeng inggris Pare-Kediri. Aku  melihat beberapa gambar yang diambil dari beberapa tempat yang sangat kukenal, beberapa persimpangan jalan yang sudah menjadi akrab bagiku tujuh tahun silam.
Aku masih ingat semuanya, aku masih ingat saat tawaku dan tawa mereka keluar menciptakan sebuah suara indah yang takkan pernah bisa aku lupakan. Kebahagiaan dan kesedihan, senyum dan air mata, aku mengukirnya indah dalam balutan kasih sayang dan kebersamaan.
Sejenak asaku melayang jauh, membayangkan jika kami dipertemukan kembali dalam suatu acara reuni akbar. Mungkin tidak akan semua dari kami yang datang meskipun rindu sudah sangat menggebu dan menyayat kalbu. Tapi aku yakin, mereka yang datang akan mengembangkan senyuman kebahagiaan dan akan merasakan suatu perasaan senang tiada tara.  Dan pada saat itu, kami akan sama-sama kaget melihat perubahan yang terjadi diantara kita. Yang dulunya masih lajang kini sudah memiliki anak, yang dulunya masih SMA sekarang sudah kerja, yang dulunya belum menikah sekarang sudah menggandeng tangan istri atau suaminya, dan aku yang dulu masih SMP sekarang sudah kuliah.
Asaku terbang tinggi tanpa bisa kuhindari, rindu yang kian melanda telah sampai di puncak yang tertinggi. Aku ingin meluapkan rindu ini, tapi pada siapa?? Bahkan untuk menyapa mereka lewat sosial media saja aku tak bisa. Kadang aku melakukannya, hanya say hallo pada mereka yang berada di seberang sana dengan dunianya masing-masing, tapi tak ada jawaban, yang kudapat hanya kekosongan. Sejak itulah aku tak lagi menyapa mereka, aku pikir mereka benar benar sudah lupa dengan sosokku atau dengan yang lainnya, mereka yang dengan gemas memanggilku tomboy, teletubbies, kecil, dan lainnya, bahkan aku disebut sebagai fans Icha, salah satu teman kosku.
Tanpa kusadari ada sebuah message masuk dalam inbox facebooku, dan ternyata dugaanku tentang mereka salah. Salah satu dari mereka masih menghubungiku, salah satu dari mereka masih memanggilku dengan sebutan yang sama dan menanyakan bagaimana kabar kamu?? Hanya tulisan sederhana, tapi mampu membuatku tersenyum kembali. Setidaknya dari puluhan orang yang kukenal, masih ada satu yang mengingatku dan masih memanggilku dengan sebutan yang sama.
Terimakasih buat kakak yang masih mengingat aku, mengingat kita, mengingat semua kenangan yang sudah pernah kita ciptakan bersama.
Terimakasih karena kakak mau berbagi cerita denganku tentang kenangan masa silam yang kupikir itu sangat membosankan bagimu, tapi ternyata tidak. Justru kenangan itulah yang membuat kita bisa tertawa kembali atau bahkan menangis bahagia, mengingat setiap detik waktu yang kita habiskan bersama bagai sebuah keluarga, saling melindungi, mengasihi, dan menyayangi.
Terimakasih Mahesa Institute, sudah mengajariku banyak hal tentang arti sebuah kebersamaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar