Sabtu, 28 Februari 2015

Cinta Datang Terlambat

“Jangan pernah mengambilnya kembali ketika dia sudah berada dalam genggamanku” wanita itu memandangku dengan sinis.

“Aku tidak akan mengambilnya kembali dari genggamanmu, tapi aku mohon ijinkan aku menatap matanya sekali ini saja -__-“ kataku dengan mata berkaca kaca.


“Tidak, karena tatapan itu akan meluluh lantakkan semuanya. Tatapan itu akan membuatmu dan dia kembali dalam suatu peraduan yang sama. Dan aku tidak menyukai keadaan itu” wanita itu mulai marah dengan emosinya yang tinggi.


“Baiklah, mungkin ini memang salahku. Meninggalkannya dalam keterpurukan, dengan keegoisanku sendiri aku menyuruhnya pergi dengan perlahan. Dan kini aku ingin dia kembali menatap mataku, aku tau itu adalah suatu hal yang tak mungkin bisa terjadi, tapi apa aku salah jika aku menginginkan itu terulang kembali??” aku tetap memaksa supaya dia mengijinkan aku kembali menatap laki laki itu.


“Jelas salah besar, kamu adalah orang ter-munafik yang pernah aku temui. Membuat orang yang dulu pernah mencintaimu terluka hingga ia pergi meninggalkanmu dan sekarang dengan mudahnya kau menginginkan dia kembali tanpa mempertimbangkan betapa sakitnya dia dulu?? Fuck!!” Wanita itu..... ingin menamparku. Hanya saja aku segera menhindar, sehingga ia segera menurunkan tangannya yang mulai mengayun di udara.


“Mungkin memang benar katamu, aku menyuruhnya kembali dengan caraku sendiri, dan semauku saja” aku mulai menyadari apa yang sebenarnya terjadi, dan tanpa terasa setitik embun telah keluar dari kedua sudut mataku.


“Baiklah, aku akan coba melupakannya, pergi sejauh mungkin untuk menghindari tatapan matanya dan genggaman tangannya. :’( “


“Percuma, pergi sejauh apapun dirimu, kau tidak akan pernah bisa melupakannya. Karena yang sesungguhnya harus pergi itu bukan ragamu tapi hatimu. Biarkan aku bahagiakan dia disini, dengan caraku dan caranya, biarkan dia bahagia denganku dan menatap masa depan yang jauh lebih indah.” Wanita itu tetap ngotot melarangku dan ingin membahagiakan laki laki yang dulu sempat menjadi lelakiku.


Lantas aku bisa apa?? Ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupku yang tak kan pernah bisa ku maavkan sampai kapanpun. Aku hanya bisa bilang........
“Baiklah, aku minta maav. permisi :’( “ dan aku berbalik, mencoba melangkahkan kakiku untuk pergi sejauh mungkin dari tempat itu.

================
Fiuh, percakapan itu masih terus teringat dalam benakku. Wanita itu... mungkin dia sudah membuatnya bahagia, andai saja semuanya belum terlambat. Andai lebih dulu kusadari dengan menurunkan egoku bahwa aku mencintainya. Mungkin saat ini aku sudah berada di sampingnya , menemani setiap jengkal langkah kehidupannya dengan cinta yang menggelora. Hmm... sudahlah, ini bukan saatnya aku terus terusan mengingat masa masa itu lagi.


*SKIP*


“Sayang, kamu sudah siap?? Kita jadi berangkat sekarang??” seorang laki laki muncul dari balik punggungku, mengagetkanku lalu berkata lagi “kamu nulis apa sayang??”


Yah.. dari tadi aku memang sedang asyik memelototi layar laptopku menulis cerita itu. Cerita tentang CINTA DATANG TERLAMBAT. Cinta di masa laluku, Segera ku tutup laptopku dan pergi bersamanya, Arfa. Orang yang sudah 2 tahun belakangan ini menemani prjalanan hidupku. thanks a lot for sayangku Arfa :*

“Ah.. tidak kok. Aku sudah siap. Ayo kita berangkat”  :)

Ini lah hidupku yang baru, yang penuh warna. Dan laki laki itu..... akan jadi kenangan terindah dalam memory kehidupanku. Bebh*

Memory Berkasih

Tidak butuh kata-kata yang terlalu muluk untuk menorehkan segala yang terekam di benakku. Aku hanya butuh kata kata sederhana yang lebih mudah untuk di fahami. 
Malam itu aku berusaha menulis ulang kejadian tempo hari yang membuat dadaku sesak. Lagu itu ... yah lagu itu, A Thousand Years-Christina Perry yang dulu sangat aku sukai kini berubah menjadi lagu yg selalu mengundang kemurunganku. Entah dimana letak kesalahannya, yang pasti aku enggan mendengar ataupun membaca lirik lagu itu lagi. Yang aku ingat setahun yg lalu sesosok malaikat tuhan yang sempurna menyanyikan lagu itu untukku. 
"Darling don't be afraid i have loved you for a thousand years, i love for a thousand more...." dan senyumnya mengembang menciptakan suatu keindahan tiada tara sore itu. 
"kenapa harus lagu itu?" tanyaku polos. 
"Karena aku akan mencintaimu lebih lama lagi-semakin lama lagi-dan terus selamanya hingga ribuan tahun berlalu" nada suaranya di buat buat sambil mengedipkan sebelah matanya ke arahku. 
"lebay ah" aku hanya bisa tersipu oleh kata katanya. Perempuan mana di dunia ini yg tidak suka di puji oleh orang yg sangat di cintainya ?? 
"hehe. Entah sampai kapan aku akan terus mencintaimu" kini kata-katanya lebih serius, dan kemudian ia diam ... akupun ikut terdiam dalam pelukannya yg hangat. Hmm rasanya aku ingin terus spt. ini. 
===========
ahh .. aku mulai sadar kembali, itu hanya kenangan Zafara. Lebih baik tidak kau ingat lagi. Percuma, toh malaikatmu sudah pergi. Benar kata nuraniku, toh dia juga sudah pergi. Aku berusaha untuk tidak mengingatnya kembali, tapi sayangnya aku tak mampu melawan ingatanku yg masih terlalu kuat untuk mengingat parasnya yg rupawan. 
"Apa kita akan terus seperti ini ??" tanyaku perlahan sembari bangkit dari pelukannya. 
"entahlah, selama perasaan itu ada aku berjanji akan terus mencintaimu" pandangannya lurus ke depan. dan aku membenci pandangan itu. 
"kalau perasaan itu sudah tidak ada lagi ??" aku berusaha menyembunyikan mataku yg milai berkaca kaca. Sayangnya ia tidak menjawab pertanyaanku dan kembali merangkul pundakku. 
===============
ahh aku kembali mengingat memory itu, dan aku yakin itu kulakukan tanpa sengaja. 
tapi setelah ku ingat-ingat kembali, sepertinya ada yg janggal dengan kata kata terakhir lelakiku waktu itu. 
aku ingat sekarang, dia tidak memberiku jawaban kala itu, karena ia sengaja mau memberikan jawabannya sekarang. Yah dan aku mengerti, kalau kita tidak akan terus bersama. dan perasaannya mulai hilang kala itu. Ohh god!! kenapa aku baru bisa mencerna perkataan itu sekarang ?? 
aku jd ingat saat dia meninggalkanku dalam ketepurukan. 
"jadi kamu telah jatuh cinta lagi ??" tanyaku pasrah 
"maav kan aku Zar" 
"seharusnya kamu tidak perlu meminta maav padaku, karena apapun yg terjadi aku tidak akan pernah memaavkanmu" 
"tapi zar ..." 
"aku baru akan memaavkanmu jika aku sendiri sudah bisa melupakanmu" itulah kata terakhirku yg aku ucapkan sebelum aku pergi meninggalkan pedihnya keadaan sore itu. cintaku di hianati oleh lelaki yg aku anggap malaikat, aku hampir tidak percaya ia bilang ia tlah jatuh cinta lagi  dengan wanita lain. Naas sekali nasibku!! 
================
Huhh terngiang kembali peristiwa setahun yg lalu. Dan sampai saat ini pun aku belum bisa memaavkannya, yah kau tau itu kawan!! itu artinya aku belum bisa melupakannya, dan kenyataannya memang begitu. Aku masih menyimpan cinta itu di dasar hatiku, masih sering nge-stalk twitternya, masih diam diam menyimpan fotonya, dan masih sering datang ke tempat favorit kita (dulu...). Danau!! 
Yahh meskipun aku sudah cukup sadar kalau saat ini ia sedang menggandeng tangan wanita lain di sebrang danau itu, sembari tersenyum menatap ke arahku. 

Red Eyes!!

Ini bukan pertama kalinya aku menulis cerita horor, setidaknya ini adalah kedua kalinya aku menuliskan cerita horor. Yah.. mungkin tidak seperti cerita-cerita horor pada umunya, lebih tepatnya seperti cerita konyol. Tapi aku belajar menulis cerita horor modern ini dari sebuah halaman facebook yang sangat popular sebenarnya. Tapi aku tidak sedang membahas halaman itu.
Baiklah, hari ini aku akan menceritkan cerita horor yang tidak murni horror, tapi setidaknya ini akan membekas. Cerita ini aku beri judul Red Eye. Semua orang pasti sudah tau arti nama itu. Yah.. mata merah.
Let’s Ceck it out !!
= = = = =
Gadis kecil itu bernama Alena, jika di lihat sekilas gadis itu memang tidak berbeda sama sekali dengan gadis-gadis kecil pada umumnya yang masih duduk di bangku SD. Yang setiap pagi harus berangkat sekolah dan pulang siang, memakan roti selai kacang pada musing dingin dan bermain dengan anjing kesayangannya setiap ia pulang sekolah. Tapi menurutku Alena berbeda, sangat berbeda. Dia memiliki.. mata merah. Mungkin memang terlihat aneh, atau bahkan hanya aku sendirilah yang menyadari mata merahnya itu. Entah karena tidak ada yang memperhatikannya atau memang mata merahnya itu hanya di tunjukkan padaku ?? entahlah. Yang pasti terkadang aku merasa sedikit merinding ketika menatap matanya, oleh karena itu aku enggan menatap matanya terlalu lama. Mungkin juga terlihat sangat konyol saat seorang mahasiswi seperti aku harus takut dengan sorot mata anak SD. Tapi.. itulah yang aku rasakan.
Dan malam ini, Alena benar-benar berhasil membuatku tidak bisa tidur. Ini karena kejadian tadi sore saat tiba-tiba ia bermain dengan anjingnya di pekarangan rumah. Tidak biasanya Alena bermain dengan anjingnya sore hari, ia selalu bermain dengan Bulgigo anjing kesayangannya itu siang hari ketika ia pulang sekolah. Sedikit cerita tentang Bulgigo, aku juga sebenarnya agak paranoid jika menceritakan tentang bulgigo. Mungkin karena aku di besarkan dari keluarga yang tidak begitu menyukai anjing pada umumnya, Bulgigo adalah anjing berwarna hitam legam yang ukuran tubuhnya bisa di bilang sangat besar di banding anjing-anjing tetanggaku yang lain, bahkan ketika Alena membungkuk di sebelah anjingnya ia terlihat lebih kecil daripada bulgigo. Bulgigo juga memiliki taring yang panjang dan gigi agak kotor, ekor yang panjang mendongak keatas, dan terkadang aumannya seperti serigala. Aku pernah berfikir, apa gadis kecil seperti Alena itu tidak takut dengan sosok anjing yang menyeramkan seperti bulgigo?? Hanya membayangkan saja terkadang aku ngeri.
Kembali lagi ke topik semula, yah.. tadi siang saat Alena bermain dengan bulgigo. Tepat sekali bersamaan dengan aku pulang kuliah, dengan mengendarai sedan kesayanganku, sebenarnya aku tidak berminat sama sekali untuk melihat Alena dan anjingnya kerena aku terlalu capek dan ingin segera beristirahat, tapi aku merasa ada yang memperhatikanku sejak tadi. Tentu saja aku langsung memperhatikan sekelilingku, tidak ada siapa-siapa disana kecuali….. Yah, Alena dan anjingnya Bulgigo. Ingin sekali aku menghindari tatapan mata merahnya yang aneh, tapi kali ini aku seperti terbiyus. Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku hingga tubuhku gemetar hebat, bulu kudukku berdiri, aku merasa sore ini udara sedang tidak bersahabat hingga menimbulkan aura mistis di kulitku. Tatapan itu menurutku cukup lama, 5 menit. Sebelum akhirnya teriakan mamaku dari dalam rumah membuyarkan biyusan mata merah Alena sore itu.
“Iyah ma, aku pulang” Aku segera lari menghampiri mamaku dengan ribuan pertanyaan di otakku, apa yang barusan gadis kecil itu lakukan padaku?? Hipnotis?? Oh mungkinkah??
“Kamu lapar sayang? Mama sudah membuatkan biskuit teddy kesukaanmu” Mama selalu membuatkan biskuit teddy untukku setiap hari jumat menjelang liburan hari sabtu dan minggu. Ayolah ma, anakmu ini sudah kuliah, ia sudah dewasa, dan sudah tidak suka lagi dengan biscuit teddy. Tapi, ah.. yasudahlah, jika ini membuat mama bahagia, akan aku makan.
                                                                            ***
Dan itulah sebab mengapa malam ini aku tidak bisa tidur. Terbayang mata merah Alena. Aku semakin penasaran dengan kehidupan Alena yang sebenarnya, karena  diam-diam aku memperhitikan gerak-gerik keluarganya, atau memang hanya aku saja yang sebenarnya terlalu tertarik untuk mengetahui misteri keluarga Alena ??
Aku tidak pernah melihat Nyonya Meri sebelumnya, ibu Alena. Meski hanya untuk sekedar keluar dari rumah, ataupun tegur sapa. Dan yang aku tau dari omong-omong beberapa tetanggaku, Alena itu terlahir tanpa ayah, yah mungkin saja memang ibunya dulu bermain dengan beberapa laki-laki bajingan dan akhirnya lahirlah Alena tanpa ayah.
Tapi tidak, opiniku salah, Nyonya Meri adalah wanita yang tidak pernah keluar rumah, menghabiskan seluruh masa remajanya di dalam rumah semenjak kematian kedua orang tuanya  25 th yang lalu, Saat itu Nyonya Meri berusia 15 tahun. Dan saat berusia 28 tahun tiba tiba Nyonya Meri melahirkan seorang bayi perempuan yaitu Alena. Padahal, ia tidak pernah keluar rumah selama 25 tahun belakangan itu, ada yang mengira bahwa itu adalah anak dari penjaga rumah Nyonya Meri sendiri, tapi kalau diperhatikan Alena tidak ada mirip-miripnya dengan Tuan Boutros penjaga rumah Nyonya Meri, lalu bagaimana ia menghidupi keluarganya selama ini, jika memang benar Nyonya Meri tidak pernah keluar rumah ??
Ah.. aku sendiri masih penasaran dan berminat ingin membuka rahasia besar keluarga Alena meski terkadang mamaku selalu mengalihkan ketika aku bertanya tentang Nyonya Meri dan keluarganya. Aku tau semua cerita itu dari tetangga sebelah barat rumahku, karena sebenarnya aku bukan penduduk asli Moskow, aku pindak dari Irlandia beberapa tahun yang lalu. Dan perlu kalian ketahui, aku belum pernah bertemu dengan wajah asli Nyonya Meri. Aneh bukan ?? Sedangkan aku sudah pindah kesini sejak 4 tahun yang lalu.
Malam ini aku tetap mencoba untuk menutup mataku, meski besok adalah hari libur, tapi aku tetap memiliki jadwal padat sejak pagi. Membantu mama di rumah, hingga mengerjakan beberapa tugas kuliah yang masih menumpuk.
Dan sekitar 2 jam kemudian aku baru terlelap dalam tidur, sayangnya 1 jam kemudian mamaku harus mengetuk-ngetuk pintu kamarku karena jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Ah.. Ssiall, aku hanya tidur 1 jam semalaman. Aku memang sengaja membuat perjanjian dengan mamaku hari ini untuk bangun pagi, berolahaga dan membersihkan pekarangan rumah yang sudah mulai kotor. Ini kesempatanku untuk memperhatikan rumah Alena sejak pagi, siapa tahu aku menemukan beberapa petunjuk.
                                                                             ***
Ketika aku berolahraga dan melewati depan rumah Alena, aku melihat sosok bayangan seorang laki-laki yang tinggi besar dan sepertinya berambut panjang, aku menyebutnya laki-laki karena bayangan tubuh itu tinggi besar. Aku penasaran siapa bayangan itu ?? tidak mungkin jika ku jawab itu Tuan Boutros, sedangkan yang aku tau Tuan Boutros badannya sudah agak membungkuk karena di makan usia. Aku coba bertanya keanehan itu pada mamaku tapi mama selalu mengatakan tidak ada siapa-siapa di rumah itu kecuali Nyonya Meri, dan anaknya Alena.
Aku sedikit percaya meski masih terasa ganjil, karena bagaimanapun juga mamaku pernah bertemu dengan Nyonya Meri meski cuma sekali selama 4 tahun kami disini, dari cerita mamaku sih Nyonya Meri itu adalah wanita yang sangat cantik, kulitnya putih mulus dan rambutnya hitam panjang, hanya saja.. wajahnya terlihat agak pucat dan seperti kelelahan.
Ada apa dengan Nyonya Meri ??
Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, setelah berolahraga dan beakfast aku segera mandi dan ganti baju untuk membersihkan pekarangan rumah seperti perjanjianku kemaren dengan mama.
Di tengah-tengah kesibukanku membersihkan halaman rumah, aku melihat Tuan Boutros keluar dari gerbang rumah Alena. Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, tanpa seizin mama aku langsung lari menghampiri Tuan Boutros.
“Selamat pagi Tuan Boutros, senang sekali bisa bertemu dengan anda” aku coba mengajaknya bicara dengan senyum merekah di bibirku, sayangnya Tuan Boutros terlihat sangat dingin.
“Selamat pagi Zafara, sebelumnya aku tidak terlalu mengenalmu kecuali hanya sebuah nama” kemudian ia berlalu begitu saja. Ah.. sial!! Mengapa orang-orang yang ada dalam keluarga ini sangat aneh, tidak Nyonya Meri, Alena, Tuan Boutros atau bahkan anjingnya Bulgigo.
Dari halaman rumah, terdengan suara mama memanggilku, memecahkan lamunanku yang mulai curiga kembali dengan kehidupan Alena yang sebenarnya.
“Iya ma, Zara kembali” Aku segera berlari kembali ke rumah.
“Apa yang kamu lakukan barusan dengan Tuan Boutros??” Mama sepertinya tidak suka aku berbicara dengan Tuan Boutros, tapi sayangnya mama tidak mengungkapkan alasan yang masuk akal.
“Aku hanya menyapan biasa kok ma, memangnya kenapa??”
“Ah.. tidak apa-apa. Lain kali kamu tidak usah menyapa siapapun dari keluarga Nyonya Meri, bahkan Tuan Boutros atau anjingnya sekalipun”
“Memangnya kenapa ma?? Aku kan hanya sekedar say hello, lagian sudah 4 tahun kita pindah ke moskow tapi kita sama sekali tidak mengenal mereka, padahal kita kan bertetangga. Keluarga mereka aneh ya ma?? Kira-kira……….” Belum ku teruskan ucapanku mama segera memotong pembicaraanku.
“Sudahlah, jangan banyak bicara, kamu tidak perlu tahu banyak hal tentang Alena gadis kecil itu dan keluarganya. Itu tidak penting, yang penting itu kamu harus kuliah yang rajin”
“Tapi ma, mereka itu….”
“Cukup Zafara, mamah membenci kamu yang terus membahas kecurigaan dan keingintahuanmu itu. Mama peringatkan sekali lagi, jangan coba-coba ikut campur dalam urusan keluarga Alena”
Aku hanya bisa diam, baru kali ini mama semarah itu. Kini kecurigaanku tidak hanya pada Alena kecil dan keluarganya, tapi juga pada mamaku sendiri. Apa yang sebenanya terjadi pada mamaku sehingga ia sampai marah seperti itu ??
Sudahlah, kuteruskan kembali memotong rumput hingga tamanku terlihat indah kembali, setelah itu aku cuci tangan dan kembali lagi ke kamar. Inilah saatnya aku berfikir dan mencoba untuk menjadi seperti apa yang aku inginkan. Detektif.. yah. Aku akan mengupas sendiri masalah ini, kecurigaanku selama ini pada Nyonya Merie, pada Bayangan laki-laki tinggi besar, pada Alena si mata merah, dan pada mamaku sendiri yang tiba-tiba marah tidak jelas saat aku menghampiri Tuang Boutros tadi.
                                                                                ***
Hari ini adalah hari minggu, seperti biasanya aku tetap mandi pagi, jogging, dan seterusnya. Tak lupa aku juga terus memantau rumah Alena, tapi sampai saat ini tidak ada gerak gerik yang mencurigakan.
Hingga sore menjelang, aku tak melihat satupun dari keluarga Alena yang keluar rumah, bagaimana cara mereka bertahan hidup yah ?? apa diam-sdiam mereka keluar rumah pada malam hari tanpa sepengetahuan siapapun ?? Ah.. sepertinya tidak mungkin.
Aku harus masuk langsung kedalam rumah itu.. yah aku harus masuk untuk memastikan sendiri apa yang sebenarnya terjadi pada rumah besar Alena. Aku akan mengatur strategi dan menunggu waktu yang tepat untuk masuk kesana tanpa ada yang menyadarinya.
                                                                              ***
Dan hari itu telah tiba, hari selasa..
Saat aku akan berangkat kuliah, aku melihat Alena bersama anjingnya Bulgigo di pekarangan rumah, aku hanya melihatnya dari kejauhan saja karena aku masih terlalu paranoid dengan mata merahnya. Aku sempat bertanya-tanya mengapa ia tak berangkat sekolah seperti biasanya ?? lalu aku melihat Eleea teman sekolah Alena yang juga tak memakai seragam sekolah seperti biasanya, yang kebetulan ia lewat depan rumahku, aku segera menghampirinya dan bertanya pada Eleea.
‘’Eleea, kenapa kamu tidak pergi sekolah ?? bukankah ini hari selasa ?? ‘’
‘’Iyah, tapi sekolah kami sengaja di liburkan’’ Jawab gadis lugu itu.
‘’Kenapah ??’’
‘’Aku tidak tahu’’ Kemudian Eleea berlalu.
Aku lihat Alena membuka pintu samping rumahnya yang selama ini jarang di buka, Alena seperti mengambil sesuatu. Mungkin itu mainannya, tapi aneh anak kecil biasanya suka bermain boneka dan semacamnya, tapi Alena memainkan sebuah….. boneka. Memang boneka, tapi seperti boneka jelangkung yang biasanya digunakan untuk memanggil arwah, dan… Oh Tuhan!! aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri bahwa boneka itu bisa bergerak dengan sendirinya. Tidak mungkin Alena atau bahkan Bulgigo yang memainkannya, boneka itu dibiarkan tergeletak dan bergerak-gerak sendiri seolah memiliki baterai. Sepertinya Alena senang sekali melihat boneka jelangkung itu menari-nari. Entah mengapa aku merasa bulu romaku berdiri. Ah.. sudahlah, itu tidak penting.
Aku mencoba kembali focus pada niatku beberapa hari yang lalu untuk memasuki rumah Alena, ini kesempatan, saat Alena sedang asyik bermain dengan Bulgigo dan mainan anehnya itu aku akan masuk kedalam rumah Alena. Meski aku agak ragu karena penciuman seekor anjing itu sangat kuat.
Diam dan mengendap-endap aku mulai memasuki rumah Alena, ini adalah saatnya aku membongkar semua rahasia besar ini. Uhh.. untungya Alena tidak melihatku memasuki rumahnya melewati pintu samping ini. Jujur dadaku berdegup sangat kencang. Kini aku telah berada dalam rumah Alena, gadis kecil bermata merah itu. Aku tidak melihat sesuatu yang aneh dalam rumah ini, semuanya normal seperti rumah-rumah mewah pada umunya yang memiliki kursi dan meja mewah. Aku terus melangkah menyusuri setiap ruangan yang ada dalam rumah ini, dan.. aku mulai menemukan suatu keanehan. Ketika aku memasuki ruangan yang aku sendiri tak tau ruangan apa itu, aku sadar bahwa aku tidak lagi didalam alamku sendiri, terkadang manusia bisa masuk kedalam alam yang berbeda dalam waktu sekejap tanpa ia sadari. Aku menyadari bahwa aku sudah keluar dari alamku sendiri karena aku mulai mencium bau anyir yang sangat menyengat, selain itu juga ada bau daging busuk yang benar-benar tidak sedap. Rasanya aku ingin muntah, tapi ku tahan. Karena aku masih ingin menyusuri seluruh lorong yang ada dalam ruangan ini.
Aku kembali memasuki sebuah ruangan aneh, mungkin itu adalah kamar Alena, karena di pintu itu tertulis Alena’s room. Aku coba masuk, dan.. tidak ada yang aneh disana, hanya sebuha kursi goyang di pojok ruangan dan.. yah, Alena terduduk disana membelakangiku, Tapi.. bukankah Alena tadi sedang bermain diluar bersama Bulgigo?? Ah masa bodoh!! aku coba mendekat dan ku beranikan untuk menyentuh pundaknya setelah ku rasa Alena tidak mendengar panggilanku ketika aku memanggilnya berulang kali tadi.
“Alena.. ini aku Zafara, Eh tapi mungkin kau mengenalku dengan nama Zara. Aku tetangga sebelah rumahmu" Ucapku memperkenalkan diri, sayangnya Alena hanya diam tidak menjawab.
"Kenapa kamu hanya diam Alena? aku hanya ingin sedikit tahu tentang kehidupanmu yang terlalu misterius menurutku" Alena tetap diam.
Tapi kemudian Alena membalikkan badannya dan membuatku kaget setengah mati !! hampir saja aku tak percaya kalau Alena ternyata hanya memiliki 1 mata yang besar di kepalanya. Dan ia menyeringai memperlihatkan gigi-giginya yang hitam mengeluarkan bau busuk. Cihh.. ini benar-benar mengerikan. Aku mundur secara perlahan karena aku merasa ini semua mulai tidak masuk akal. Tapi siapa yang kuat menahan rasa penasaran kalau sudah seperti ini ?? aku bertanya kembali, “Siapa kamu? Alena tidak seperti ini. Alena adalah gadis kecil yang cantik dan tidak kotor seperti dirimu”
Sayangnya gadis yang ku anggap Alena itu hanya tertawa kecil dan berlari keluar kamar, aku berniat untuk mengikuti gadis itu dari belakang, ku ikuti setiap langkahnya. Dan tungu, iamengambang di udara, yah.. kakinya tidak menyentuh tanah. Sepertinya aku terlambat menyadari hal ini. Oh Tuhan !! bulu kudukku seketika merinding hebat. Apa yang sebenarnya terjadi dalam rumah ini??
Ku ikuti terus langkahnya hingga ia berhenti di sebuah ruangan yang sangat besar. Sepertinya ini ruang makan, tapi buat apa ruang makan sebesar ini?? Bukankah di rumah ini hanya ada Alena dan Nyonya Meri saja??
Gadis mengerikan itu terus berjalan seolah menunjukkan padaku apa yang sebenarnya terjadi, ia duduk di sebelah kanan tepat di sebelah kursi utama. Aku masih dan memandanginya dari jarak yang lumayan dekat, di kursi utama itu aku melihat seorang wanita berambut hitam legam yang panjang, hampir sekaki panjangnya, apa itu benar Nyonya Meri?? Lalu kenapa ia hanya menunduk?? Sesaat setelah pikiranku bertanya-tanya. Wanita yang ku pikir Nyonya Meri itu mulai menggerakkan kepalanya, sepertinya ia akan menatapku, yah aku akan melihat wajah Nyonya Meri yang asli. Saat yang sangat aku tunggu-tunggu selama ini.
Tapi tunggu…. "Ya Tuhan", aku memekik tertahan melihat apa yang ada di hadapanku saat ini. Mataku membelalak kaget melihat apa yang ada didepan mataku. Apa benar ini Nyonya Meri yang selama ini di bicarakan tetangga-tetanggaku?? Dia.. dia tidak memiliki wajah, mukanya rata tanpa mata, hidung dan bibir. Ingin sekali aku lari sekencang mungkin meninggalkan rumah misteri ini, Tapi seketika tubuhku kaku, tak mampu bergerak sedikitpun. Rasanya aku ingin menangis, teriak dan meminta tolong sebelum ku ingat kembali bahwa ini adalah sebuah misi, seorang detektif tidak boleh takut dengan apapun dan bahkan harus merelakan nyawanya sendiri untuk sebuah penelitian. Fiuhh..Untung aku tidak lupa sedari tadi aku masuk ruangan, kamera kecil yang terpasang di kerah bajuku ini telah menyala. Kini aku bisa merekam semuanya dan akan menyebar luaskan berita mengenai keluarga misterius ini. Sekarang aku yakin bahwa gadis misterius itu memang benar Alena.
Alena bangkit dari kursinya dan mendekatiku, ia seakan mengajakku duduk serta dengannya di meja makan yang telah di sediakan. Sesungguhnya aku sangat takut, bulu kudukku tetap tegak berdiri, makan bersama makhluk-makhluk astral yang sangat menyeramkan bukanlah harapanku. Aku mengikuti saja arahan Alena. Tiba-tiba dari pintu sebelah kiriku muncul seorang laki-laki yang tinggi besar dan berambut putih panjang, mungkin ia adalah bayangan laki-laki yang waktu itu pernah aku lihat. Tapi ternyata wajahnya jauh lebih menyeramkan daripada bayangannya. Ia.. memang sempurna memiliki mata, hidung, dan mulut. Tapi ia memiliki kuku hitam nan panjang hingga melengkung kebelakang, ia tidak memiliki kaki, karena kakinya berbentuk  ekor yang panjang. 1 lagi dan ini sangat fenomenal, ia memiliki mata merah seperti apa yang selalu kulihat pada mata Alena.
Aku benar-benar begidik melihatnya, dadaku sekakan berhenti berdetak seketika. aku hanya bisa diam melihat keluarga mengerikan ini. Tak ada yang berbicara di antara kami, semua hanya diam termasuk Alena sendiri sebelum akhirnya laki-laki ber-ekor itu membuka sebuah nampan besar yang sedari tadi telah di hidangkan di meja kami. Perlahan tapi pasti aku melihat seekor ayam yang masih hidup disana, keplanya memang telah terpotong, tapi ayam itu masih hidup. Lalu apa yang akan di lakukan mereka dengan ayam hidup itu??
Laki-laki mengerikan itu meraih ayamnya dan mematahkan kaki dan sayapnya, seketika itu juga darah segar mengalir dari tubuh si ayam. pahanya di berikan pada Nyonya Meri dan sayapnya di berikan pada Alena, iih.. jijik sekali aku melihatnya, kali ini aku benar-benar ingin muntah. Mereka memakan daging mentah dengan darah segar yang mengucur. Ini benar-benar menjijikkan, jauh lebih menjijikkan daripada sekedar melihat batu apung warna kuning di sungai.
Tanpa kusadari, dalam hati aku berdoa selagi aku masih mampu “Ya tuhan.. jika memang mereka adalah bagian dari makhluk astral yang kau ciptakan, kembalikanlah mereka pada tempat mereka yang tenang” entah terlalu miris atau ketakutan sehingga aku berdo’a demikian.
Dan kali ini aku benar-benar muntah, parahnya lagi sepertinya mereka terganggu dengan muntahku. Alena terlihat sangat marah dan matanya memancarkan cahaya merah. Dia seperti ingin menerkamku, tapi aku sadar tak ada yang bisa menolongku saat ini, karena aku telah memasuki alam mereka. lalu apa yang harus aku lakukan??
“Oh.. Maav, aku tidak sengaja. Aku hanya merasa jijik melihat kalian memakan ayam mentah seperti itu” aku berusaha meminta maav atas kejadian barusan.
Alena hanya diam dan sedikit tenang, cahaya mata merahnya sedikit meredup. Tapi tidak dengan lelaki tinggi besar itu, dia tetap tidak terima dengan apa yang aku lakukan barusan. Dia beranjank dari kursi duduknya dan menatapku tajam. Mata merahnya kembali memancarkan cahaya seperti mata Alena, aku tidak bisa berbuat apa apa hanya mendongak pasrah sambil membaca komat kamit menunggu keajaiban. Laki-laki itu mendekat dan semakin mendekat, mungkin ini adalah saatnya aku untuk lari dari ruangan ini. Yah aku harus lari.
Plak!! Plak!! Plak!!  Aku lari sekencang mungkin hingga menimbulkan suara gaduh pada langkahku. Aku terus berlari tanpa berani menengok kebelakang. Aku masih terlalu paranoid untuk mengingat kembali wajah wajah makhluk astral itu.
Huh huh huh.. aku capek berlari, sangat capek. Hanya deru nafasku sendiri yang terdengar di ruangan ini. “kenapa aku tidak sampai sampai di pintu tempatku masuk tadi ??" tanyaku seperti berbicara pada diri sendiri. Aku melongo kekanan dan kiriku berharap menemukan pintu yang tadi aku cari, tapi sial tidak ada pintu disini. Dan wush… angin dingin menyapu tengkukku, aku dapat merasakan ada sesuatu di belakangku. Apa mungkin makhluk-makhluk itu masih terus mengejarku?? Tidak!! Jangan biarkan mereka menggangguku Tuhan, aku mohon. Perlahan aku mencoba menoleh kebelakan, berharap feelingku salah.
Dan..” Aaaaaarrrggghhh… pergi pergi pergi darisini. Jangan dekati aku” aku mulai berteriak-teriak tidak karuan, aku tersudut di pojok ruangan itu. dan tepat di depanku ada Nyonya Meri dengan muka datarnya. “Apa yang ingin kau lakukan Nyonya Meri?? Jangan sakiti aku, ku mohon” aku seperti bicara pada diriku sendiri, tanpa ku sadari Alena telah berada di samping kananku dengan senyum menyeringai. Aku terkaget kembali melihat gigi hitamnya yang mengeluarkan bau busuk, tapi kali ini aku tidak memiliki waktu untuk menutup hidungku dari bau busuk itu. aku harus segera pergi dari ruangan ini. Haruss!! Tapi bagaimana?? Aku hanya bisa menutup mataku perlahan dan mulai pasrah.
“Kau sudah puas menelusuri keluargau Zafara??” Kata Alena dengan menggeram.
"Aku minta maaf Alena. Aku minta maaf, aku tidak bermaksud mencari masalah denganmu dan keluargamu” aku memohon pada Alena agar ia mau membebaskan ku dari dunia lain ini.
“Hahaha sayangnya siapapun yang masuk kesini tidak akan pernah bisa keluar Zafara, kau akan mati. Hahaha. Aku dan keluargaku akan memakanmu hidup hidup” Alena semakin membuatku ketakutan. Tiba-tiba kepalaku sangat pening, pening sekali sehingga membuat pandanganku menjadi kabur. Dan….. Gelap.
                                                                                    ***
“Zara, bangun sayang. Bangun nak” samar sama ku dengan suara mama begitu dekat. Lalu aku membuka mata dan melihat mama serta tetangga-tetanggaku sedang mengerubungiku. Mama menangis, ada apa ini?? mengapa mama menangis??
“Ada apa ma??” tanyaku pelan. Aku merasa kehabisan tenaga sehingga tak mampu berbicara.
"Kamu pingsan selama 3 hari sayang" mama masih terus terisak oleh tangisnya sendiri.
“Pingsan 3 hari??” aku kembali mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi pada diriku.
Dan.. yah aku ingat sekarang, waktu di rumah Alena tiba-tiba pandanganku menjadi kabur dan gelap. Lalu.. aku tidak tau apa yang terjadi padaku setelahnya. Tapi samar-samar aku masih bisa mendengar ada yang berbicara “Dia bukan santapan kita, kembalikan dia pada tempat asalnya” setelah itu aku tak bisa mendengar apa apa lagi. Dan ternyata aku pingsan selama itu??
Mama menyodorkanku segelas air putih untuk memulihkan tenagaku, aku segera meneguknya sampai habis seperti tidak minum beberapa hari saja. Eh tunggu, aku kan memang tidak minum selama 3 hari.
“Kamu hilang selama 4 hari Zara” celetuk tetanggaku yang lagi lagi membuatku kaget.
“4 hari??”
“Iyah, dan kau di temukan pingsan di dekat rumah Nyonya Meri” kata tetanggaku yang lain.
Aku masih berfikir apa yang terjadi saat aku pingsan waktu itu, tapi tiba-tiba mama menanyakan hal yang membuatku tak mampu untuk menjawabnya.
“Apa yang kamu lakukan di rumah Nyonya Meri Zafara??”
Aku hanya diam menatap mata mama, berusaha menjelaskan hal yang tak bisa di jelaskan dengan nalar manusia. Tapi.. bukannya aku punya bukti kamera kecil yang aku taruh di kera bajuku??
“Ma, dimana baju yang aku pakai saat aku pingsan di sebelah Nyonya Meri kemarin??”
“Memangnya ada apa dengan baju itu??” mama bertanya menyelidik.
“Di situlah bukti tentang misteri rumah Alena yang sebenarnya. Aku memang berencana memasukinya kemarin, ma. Maafkan aku, tapi aku benar-benar tidak bisa membendung rasa penasaranku”
Mama segera bangkit dan mengambil baju yang aku maksudkan.
“Ini bajumu”
“Belum mama cuci?”
"Belum. Ada apa ? "
Aku segera melepaskan kamera yang masih terpasang di kerah bajuku, mengambil memorynya  dan menyodorkannya pada mama. Mama segera meraih laptopku dan memutar hasil rekaman yang ku maksudkan tadi. Tetangga-tetanggaku juga ikut menyaksikannya, aku melihat jelas ekspresi muka mereka setelah melihat rekaman video yang aku berikan tadi. Wajah mereka pucat pasi, dan sebagian merasa ketakutan. Akupun juga masih merasa demikian, paranoid, takut jika mengingat kembali kejadian waktu itu.
                                                                                    ***
3 hari kemudian setelah rekaman video itu di laporkan kepada seorang pastur gereja, rumah Nyonya Meri di bongkar. Ini atas pengamatan tuan pastur yang katanya apa yang aku alami kala itu memang benar-benar nyata. Aku dibawa ke dunia para iblis yang hanya ingin merusak moral manusia.
Dalam pembongkaran rumah mewah itu, telah di temukan 3 tulang-tulang manusia yang sudah rapuh. Sepertinya tulang itu sudah lama ada didalam sana, setelah dilakukan otopsi oleh pihak rumah sakit moskow baru kita bisa tau kalau sebenarnya itu adalah tulang Nyonya Meri, Tuan Boutros, dan Babysitternya Alena, yaitu Diana.

Setelah aku nalar beberapa saat sekaligus mendapatkan bukti dari pastur, sekarang aku mengerti. Benar kata tetangga-tetanggaku jika Nyonya Meri tidak pernah keluar rumah sejak kematian orang tuanya 25 tahun yang lalu. Berarti ia telah meninggal, dugaanku karena tidak mampu bertahan hidup. Dan laki laki tinggi besar itu adalah iblis yang menikahi arwah Nyonya Meri hingga lahirlah Alena. Tunggu.. berarti Alena juga makhluk astral?? Dan selama ini ia bergaul dengan manusia?? Oh Shit. Pintar sekali setan-setan itu. Dan tuan Boutros.. berarti tuan Boutros yang aku temui di luar rumah waktu itu adalah…. Arwahnya?? Huaaaa.. !!

Jumat, 27 Februari 2015

Putri Kegelapan

BRAKK!! ... DUARR ... aku melihat di depan mataku langsung kecelakann truk pagi itu yang menewaskan 3 orang di tempat. mereka adalah pengendara truk yg bermuatan tangki besar. Jantungku berdegup kencang, badanku membeku, dan keringat dingin membasahi tengkuk ku. Baru kali ini aku melihat langsung adegan kecelakaan maut seperti ini, Jaraknya memang tidak begitu jauh dariku. Untung saja mamaku tadi langsung menyeretku menjauh ketika melihat akan ada bahaya yg menghampiriku dari ledakan truk itu. aku segera mundur tapi mataku tetap terpaku pada mayat-mayat berlumur darah yang ada di hadapanku. tak ada orang yg berani mendekat selama beberapa saat hingga akhirnya sebuah suara memecahkan keheningan pagi itu , "Kita harus menolong mereka!!" suara lantang seorang lelaki paruh baya dengan jari telunjuk tepat menunjuk pada mayat mayat penuh darah itu. Tapi tak ada 1 orang pun yang menyahut, apalagi menolong. siapa yg mau bergelut dengan kobaran api dalam keadaan seperti ini ?? aku sendiripun enggan, kecuali orang yg tidak sayang pada nyawanya sendiri. Lelaki paruh baya itupun diam kembali, mungkin ia urungkan niatnya tadi sambil menunggu pemadam kebakaran datang. Suara desas desus masyarakat pun kian membabi buta, ini lah saat-saat yg aku benci. Membicarakan orang yang sudah meninggal!! Karena jika aku ikut membicarakannya, aku selalu merasa mereka kian mengawasiku. Bahkan tadi aku sempat melihat nyawa-nyawa itu terangkat keatas dengan wajah sedih dan penuh penyesalan. Iyahh ... nyawa nyawa korban kecelakaan itu. Entah sejak kapan aku memiliki kemampuan seperti ini, yang aku tau dulu sewaktu kecil aku tidak pernah merasa bisa melihat arwah orang yg telah mati. Bahkan sekarang aku juga bisa melihat qorin dan kodam yang mengikuti mereka. ahh kadang aku lelah selalu merasa di perhatikan.
Beberapa menit kemudian pemadam kebakaranpun datang dan habis melahap api dengan air nya. sepertinya aku ingin muntah melihat darah yang bercecer dicampur dengan air sehingga menghasilkan warna merah yang encer dan bau amis yang menyengat. lebih baik aku pergi saja. aku meninggalkan tempat itu bersama mamaku dan pulang ke rumah dengan mual mual luar biasa.
===============
"kasian ya orang tadi langsung mati di tempat" ucap mamaku.
"sebenarnya mereka tidak langsung mati, ma. selang beberapa menit kemudian nyawa mereka baru melayang" jelasku.
"haha tau darimana kamu Sevilen??" mamaku mengejek tidak percaya. tapi aku tidak diam. aku melakukan perlawanan,
"aku melihatnya sendiri malaikat kematian telah melayangkan nyawa mereka".
sayangnya mamaku masih tidak percaya dan terus tertawa hingga beberapa detik kemudian ia terdiam dan bertanya padaku dengan sorot mata menyelidik, "sejak kapan kamu memiliki keahlian bisa melihat malaikat kematian??" dan aku hanya bisa menjawab, "aku tak tau" hening ....... aku penasaran mengapa mamaku bertanya seperti itu, apa mamaku tau sesuatu ??
===============
Hari ini mama sengaja mengajakku pergi melayat temannya yg sudah meninggal katanya mama ingin tau apa arwah temannya itu masih berkeliaran d rumahnya atau sudah benar benar pergi. dan aku meng-iyakannya saja, toh aku juga sudah terbiasa dg kehadiran arwah.
"apa dari luar sini sudah kelihatan ?? " Tanya mama setengah berbisik.
"belum mah. tapi ... " setelah ku langkahkan kakiku aku mencium bau busuk, sangat busuk.
"cihh bau apa ini?? busuk kali. rasanya aku ingin muntahh"
"huss jg muntah disini.. hormati yg mati. ayo kita masuk"
"ya tuhann ..... "
"ada apa lagi ?? "
"ma wajah arwah itu sangat buruk, wajahnya membusuk dengan darah dan nanah, cihh baunya sungguh tak sedap. aku sudah tidak kuat lagi ma, aku tunggu di luar saja" aku tidak menunggu jawaban dari mama karena sudah tidak tahan lagi dan langsung keluar begitu saja. 20 menit telah berlalu, mama sudah keluar dari rumah itu. Tapi sekarang mama tidak bicara apa apa lagi dan langsung mengajakku pulang begitu saja.akupun tidak menaruh curiga apa apa pada mama. Toh mama juga tidak melakukan hal yang membuatku curiga pagi ini.
===================
"kamu benar benar tidak tau kapan pertama kali kamu bisa melihat arwah??" mama bertanya padaku dengan dingin setelah kami sampai rumah.
"tidak" jawabku seadanya.
"kegelapan telah kembali" kata mama datar, tapi aku masih terlalu tidak mengerti dengan ucapan mama barusan "maksud mama ??"
"ah tidak apa apa. Lupakan!!" mama tersenyum hambar.
"ma katakan padaku apa yg sedang mama sembunyikan??"
"tidak ada, sudah jangan bertanya lagi"
"aku ini sudah dewasa ma!! Aku berhak tau apa yang mama sembunyikan dariku" aku mulai ngotot karena sepertinya mama masih berusaha untuk menyembunyikan sesuatu, entah apa itu. Anehnya mama tidak langsung menjawab pertanyaanku dan malah balik bertanya.
"apa kamu sudah cukup dewasa untuk mendengarkan siapa dirimu sebenarnya ??" mama membentak kasar. Aku terkaget, baru kali ini mama membentakku. Mama kini bukan mama seperti biasanya, mama yang aku kenal adalah mama yang lembut dan perkatannya selalu halus.
"siapa diriku sebenarnya?? A...apa maksud mama ?? "
“Baiklah jika kamu memaksa, mungkin ini adalah saat yang tepat untuk memberitahu siapa dirimu sebenarnya Sevilen Zavara. Sebenarnya … sebenarnya kau adalah keturunan dari iblis lingkaran ketiga……keturunan dari Lucifer penguasa tertinggi penghuni neraka”
Apa ?? Aku tercengang, kaget dan hampir tidak percaya dengan apa yang aku dengar barusan. Ibliss?? Lucifer ?? Tidak itu tidak mungkin. Sayangnya saat ini bibirku benar-benar kaku sehingga tak mampu untuk berbicara sepatah katapun. Aku hanya sedikit menggerakkan bibirku membentuk huruf O, yah.. layaknya orang kaget pada umumnya.
“Kamu tidak perlu kaget Sevilen, dan tidak perlu bertanya Tanya apa yang kau dengar barusan benar atau salah!! karena mama kira telingamu masih cukup baik untuk mendengar ucapan mama barusan »
Mama seperi menudingku begitu saja. Aku mulai merasa ketakutan dengan setiap kata yang keluar dari bibir mama. Sesungguhnya aku belum sepenuhnya mengerti dengan perkataan mama.
« Mana mungkin aku keturunan iblis sedangkan mama seorang manusia ?? » tanyaku dalam hati. Tapi kemudian mama melanjutkan ucapannya lagi hingga membuyarkan lamunanku
» Dan berhenti berpura-pura tidak menerima kenyataan ini Sevilen. kamu adalah keturunan dari iblis lingkaran ketiga !! Kau tau ? sebenarnya di dunia ini ada 9 lingkarang iblis, dan penguasa lingkaran ketiga itu adalah ….. Garendra, atau nama sucinya adalah Arakiel. Ayahmu”.
Baru kali ini aku bisa mengeluarkan suaraku “aku tidak tau harus percaya atau tidak, ini terlalu tidak masuk akal dan mengada-ngada. Sesosok iblis memiliki anak seorang manusia?. Dan jika aku keturunan iblis mengapa aku tinggal di bumi bersama mama yang juga seorang manusia” tanpa terasa ada sesuatu yang keluar dari kedua sudut mataku, dan kini telah jatuh di pipiku. Yah.. aku menangis. Tidak bisa terima atas apa yang telah di tuduhkan oleh mama. Dengan perasaan enggan akhirnya mama mau menceritakan secara detail tentang perwujudanku.
“Dulu….. ada seorang malaikat surga yang melakukan suatu kesalahan, ia bernama Sevilen Key Kerensha. Para malaikat memanggilnya keren, wanita itu adalah penghulu malaikat surga. Salah satu dari saudara Gabriel”, sampai disini mama tidak meneruskan ceritanya ia diam beberapa saat untuk menarik nafas yang dalam. Akupun tak berani berbicara apa-apa kecuali hanya menunggu mama melanjutkan ceritanya kembali sambil ku tatap matanya baik-baik, alih alih ia berbohong atau hanya memberiku kejutan di hari helloween yang tinggal beberapa hari lagi.
“kau tau siapa Malaikat Gabriel, Sevilen??”
“Malaikat Gabriel?? Iyah aku tau. Bukankah dia adalah malaikat yang membawa wahyu kepada Bunda Maria bahwa ia akan memiliki seorang anak yaitu Yesus??”
“Benar sekali Sevilen, dan Gabriel adalah salah satu saudara dari Keren”
“Keren itu siapa??”
“Sevilen. Keren itu…. Keren itu adalah ibumu!! Suatu malam saat Keren ibumu di tugaskan untuk membumi hanguskan kegelapan di bumi, ia telah berhasil di kelabuhi oleh Garendra. Seorang ibliss neraka dari lingkaran ke 3 diseluruh jagad raya ini. Ibumu dibawa ke neraka dan di paksa untuk menikah dengannya……”
Lagi-lagi mama terdiam seperti terlalu berat untuk menceritakan semunya, aku semakin penasaran dengan cerita mama meski hatiku sangat sakit menerima kenyataan yang bahkan aku sendiri tak mempercayainya. Beberapa saat kutunggu mama tak kunjung bicara lagi, akhirnya aku mulai balik bertanya.
“Ma, jika Keren adalah malaikat surga, mengapa ia tak bisa memberontak dan melapor ke surga bahwa neraka telah melakukan kecurangan dengan menculik salah satu malaikatnya??”
“Kamu tidak mengerti Sevilen!!” mama membentakku lagi yang membuatku kaget, tapi kemudian ia meneruskan ceritanya. “Keren itu berbeda. Dia malaikat yang lebih menyerupai manusia dari pada malaikat-malaikat yang lain. Dia tidak sekuat saudara saudaranya hingga Garendra berhasil mencurinya ketika ia lengah dengan dirinya sendiri. Ini adalah suatu kesalahan besar, seorang penghulu malaikat surga menikah dengan seorang Iblis lingkaran ketiga yang kejam di neraka, bahkan Lucifer sendiri yang telah menikahkan Keren dan Garendra. Hingga suatu hari Keren hamil mengandung kau Sevilen. Tidak pernah ada cinta di hatinya kecuali hanya sebuah kebencian, hingga tiba saatnya kau terlahir di neraka. Tapi iblis menolak kelahiranmu, iblis menolak kelahiran bayi seorang malaikat meski ia telah dinikahi oleh iblis neraka sendiri. Itu adalah alasan terkuat mengapa kau di buang ke Bumi”
“Apa?? Aku di buang?? Apa tidak cukup membuatku menderita dengan kelahiranku di tengah tengah neraka?? Padahal sebenarnya aku adalah putri malaikat” aku mulai marah dan tidak bisa mnegontrol emosiku. Aku muak dengan cerita ini aku muakk!!
“Tenang Sevilen, tenang.. jika kamu tetap tinggal di neraka mungkin kamu tidak akan pernah selamat sedangkan surga sendri tidak menerima iblis untuk masuk kesana. Kau ini bukan malaikat, juga bukan iblis. Dan kau tidak bisa di golongkan dengan manusia”
Aku hanya diam, dan berbisik “Aku bukan Iblis…”
“Memang, tapi kau adalah keturunan Iblis, dan sekarang adalah saatnya”
“Saatnya?? Saatnya untuk apalagi ma?? Apa ada hal yang lebih buruk dari mengetahui bahwa aku adalah keturunan Iblis??”
“Saatnya kegelapan mengambilmu kembali, Lucifer pernah meminta pada Garendra jika suatu petunjuk neraka telah tumbuh dalam dirimu tanpa kau sadari, itulah saatnya kegelapan mengambilmu kembali. Dan tidak akan lama lagi mantan malaikat surga itu akan kembali ke dunia untuk menjemputmu ke neraka. Dan petunjuk itu telah terlihat dalam dirimu, kamu bisa melihat malaikat kematian menjemput arwah arwah yang tepat”
“Sebentar, mantan malaikat surga? Maksudnya??”
“oh.. aku melupakan sesuatu, Garendra ayahmu, dulunya adalah seorang malaikat surga. Namanya dulu adalah Arakiel, tapi karena dia telah berani membangkang perintah surga, sama seperti Lucifer dulu. Akhirnya surga pun enggan menerimanya kembali dan melempar Garendra ke neraka. Penghulu malakat Michael sendiri yang telah melemparnya”
“Aku tidak mau ke neraka. Aku tidak mau, katakan bahwa semua itu adalah kebohongan yang besar”
“Tidak Sevilen, tidak ada kebohongan disini”
“Lalu mengapa kau disini sebagai mamaku??”
“Aku….. sebenarnya aku adalah pemuja sekte aliran sesat yang di tugaskan langsung oleh kegelapan untuk menjagamu, tugasku untuk menghasut dan membunuh manusia telah usia dan digantikan dengan merawat dan menjagamu sebagai anakku”
“Apah??  Pemuja sekte sesat?? Maksudmu, bersukutu dengan iblis??” rasanya aku tidak mampu lagi untuk berbicara, isak tangis ini semakin kencang. Tapi aku tetap berusaha untuk melanjutkan kalimatku. Aku ingin mengetahui semuanya.. yah semuanya tentang diriku dan tentang siapa mamaku ini sebenarnya!!
“Jadi….mama adalah iblis!! sama seperti mereka !!” aku bergumam pelan, tapi sayangnya mama mendengar ucapanku sehingga membuatnya tampak marah.
“tutup mulutmu Sevilen, aku bukan Iblis. Aku hanya pemuja iblis”
“lalu apa bedanya kau dengan iblis?? Kau telah menyembunyikan kebenaran ini selama belasan tahun dariku”
“Sevilen, seharusnya kau senang karena kau akan bertemu dengan orang tua kandungmu sebentar lagi, Kerensha dan Garendra. Mereka telah menunggumu untuk kembali ke neraka hahahaha”
Tawa itu… tawa itu seperti mengejekku, mama yang dulu aku kenal sangat ramah, baik, dan sayang padaku ternyata tidak lebih dari kawanan iblis yang sesat. Mamaku yang selama ini ku puja ternyata seorang manusia yang keji. Aku tau waktuku di bumi ini mungkin tidak akan lama lagi, pasti aku akan segera di jemput untuk kembali ke neraka. Lalu apa yang harus aku lakukan?? Bahkan untuk membayangkan rupa neraka saja aku tak berani. Pasti banyak manusia manusia menjijikkan dengan segala hukumannya disana. Entahlah.. aku capek, aku merasa dadaku sangat sesak, dan pandanganku mengabur. Gelap…
==================
Pagi ini aku tidak melihat mama di rumah semenjak aku terbangun dengan kondisi mata yang masih sembab, mungkin setelah aku mengetahui semuanya ia merasa sudah tidak punya tanggung jawab lagi untuk memasakkan aku lalu pergi begitu saja. Oh Shit !!
“Hmm.. sepertinya aku harus masak sendiri pagi ini, meski sesungguhnya perut ku tidak begitu lapar” aku mengoceh sendiri.
Tapi sebelum aku mengambil alat memasak, mama datang dengan membawa junk food.
“makan ini saja, tidak perlu masak. Aku juga sudah malas masak” ucap mama sambil menyodorkan makanan siap saji padaku, Aku tidak banyak berbicara dan langsung mengambil makanan dan minuman yang dibawa oleh mama dan segera berlalu dari situ.
“Tunggu!!” panggil mama, yang membuatku langkahku berhenti dan menoleh kebelakang.
“Tadi pagi sebelum kau terbangun, aku melihat tanda tanda itu….”
Tanda tanda?? Ah pasti tanda tanda kegelapan itu, aku hanya diam saja. Sengaja memberi mama waktu untuk melanjutkan ucapannya.
“Tanda tanda datangnya kegelapan, asap hitam mengepul di sekitar rumah ini dan…. Ada sedikit bekas terbakar di tembok luar kamarmu”
Aku tetap diam dan berlalu begitu saja, malas untuk mendengarkan cerita yang tidak begitu menarik. Karena aku sendiri juga sudah tau pasti aku akan segera dibawa ke neraka.
Hari ini aku sengaja hanya membaringkan badan di atas kasur, berharap fikiranku sedikit lebih tenang setelah aku mengetahui jati diriku sebenarnya, aku kira penglihatanku yang begitu peka dengan arwah arwah itu tidak membawa masalah yang sebesar ini. Ternyata aku salah, justru ini adalah masalah besar. Aku… keturunan iblis dari lingkaran ke tiga. Oh kalimat itu masih terus terngiang di kepalaku.
===================
Wussshhh…Wushh…… ctarrr….
“Ada apa ini” aku segera berlari keluar rumah melihat sekelilingku apa yang telah terjadi. Aku merasa ada angin begitu kencang, sangat kencang berhembus kea rah rumahku. Bahkan angin ini bisa disebut dahsyat serta bunyi petir bersahutan. Ada apa ini Tuhan?? Mengapa asap hitam mengepul di depan rumahku?? Dan…. Mana mama?? Tak lama kemudian mama muncul dibalik punggungku dengan senyum begitu tenangny. Ada apa ini?? mengapa mama bisa setenang itu dalam keadaan seperti ini??
“Kegelapan telah datang, kekuatannya begitu dahsyat. Berpeganglah Sevilen kalau kau tidak mau terpental kemana-mana”
“Apa secepat itu??” kataku lirih, bahkan nyaris tak terdengar, tapi aku salah. Mamaku mendengar perkataanku barusan.
“Tidak butuh waktu lama lagi untuk Pangeran Garendra dan Malaikat Keren datang menjemputmu, persiapkanlah dirimu Sevilen!!”
Ya tuhan aku berharap pai ini aku hanya bermimpi, aku segera berpegangan erat-erat pada daun pintu, takut tubuhku terpental kemana mana. Aku merasa angin ini semakin kencang saja, dan sejeret kilatan dengan cahaya api terpancar keluar dari dalam tanah yang retak. Aku sendiri tidak begitu paham mengapa tanah ini bisa retak dan mengeluarkan cahaya api yang sangat terasa panasnya.
Dan…. Aku melihat seorang lelaki dan perempuan keluar dari sana, yah… dari rongga tanah itu. Oh Tuhan.. apakah mereka orang tua kandungku?? Apa benar mereka adalah ayah dan ibuku?? Kerensha yang begitu anggun, dan Garendra yang begitu bengis tapi sepertinya tetap berusaha untuk terlihat anggun. Tiba-tiba angin behenti begitu saja, asap hitam telah hilang, dan waktu seperti berhenti. Terlihat burung burung yang beterbangan berhenti seperti menjadi patung. Yah.. kurasa kehadiran mereka telah menghentikan waktu, dan hanya aku, mama dan mereka yang tidak terpengaruh dengan kematian waktu ini.
“Selamat datang di bumi Pangeran Garendra” kata mama sambil membungkukkan badannya pertanda rasa hormat yang amat sangat. Tapi aku hanya diam, tidak mengikuti mamaku, karena aku merasa ia tak pantas untuk di hormati, Garendra seorang iblis yang telah menculik paksa Keren sehingga lahirlah aku. Aku tidak mau menghormati mereka!!
“Rupanya anakku telah tumbuh dewasa” Ucap Garendra dengan suara menggelegar dan senyum yang sama sekali tidak terlihat menawan. Aku tidak menimpali ucapannya, kurasa tidak perlu.
“Putriku…..” kini giliran ibuku Keren yang berbicara, matanya sendu, dan terlihat sangat anggun dengan balutan gaun ungu tuanya itu. Aku merasa ia tidak pantas jika harus menikah dengan laki laki iblis ini. Dan kelahiranku adalah suatu kesalahan. Tiba-tiba suara mamaku memecahkan lamunanku.
“Sevilen, beri hormat pada kedua orang tuamu”
“Sudahlah Elie, jangan paksa putriku. Apa kau sudah menceritakan siapa sebenarnya dirinya??”
“Sudah tuan”
“Bagus!! Putriku Sevilen, mari ikut bersama kami kembali ke neraka”
Aku ingin sekali membantah perkataan mereka, tapi lidahku tercekat. Aku tidak bisa mengeluarkan suara sedikitpun sehingga tanpa ku sadarari tangan lembut ibuku Keren telah memegang lenganku dan membawaku di antara ayah Garendra dan dirinya. Aku tetap diam, kakiku bagai terseret oleh maghnet yang sangat dahsyat, melangkah dengan sendirinya tanpa di beri komando. Rasanya aku ingin melawan, aku ingin sebuah perlawanan, tapi percuma. Kilat api dengan sangat cepat membawaku pergi jauh ke neraka. Selamat tinggal bumi, selamat tinggal dunia. Ini adalah saatnya aku menjadi putri neraka…..


Kamis, 26 Februari 2015

The Cannibal Cat



Sevilen.. gadis pecinta kucing itu memiliki rutinitas wajib setiap paginya, yaitu memberi makan kucing. Bahkan tak jarang ia berdebat dengan neneknya gara gara neneknya itu tidak suka sevilen yang terlalu sayang dan memanjakan kucing-kucing itu dengan memberi mereka makan setiap pagi dan sore. Karena sevilen anak yang pembangkang pada dasarnya, ia sering tak bisa menahan emosinya untuk membantah perkataan neneknya agar sevilen masih tetap bisa memberi makan kucing-kucing kesayangannya itu, hingga berkhir selalu ibunya yang melerai dengan marah-marah dan juga ikut memarahi sevilen yang dia rasa tidak ada sopan-sopannya pada orang tua. seperti pagi ini..
Brakk!! sevilen membanting pintu kamarnya sambil berteriak "suka suka aku dong mau kasih makan kucing kek, enggak kek. Itu juga kucing-kucingku sendiri" Oh Shit!!..
"Hei sevilen, jangan menjadi anak pembangkang kau. siapa yang masak nasi kalau bukan nenek?? hah?? tidak sopan sekali pada orang tua" ibuku ikut berteriak sedangkan nenek hanya diam.
"Lagian siapa suruh nenek banyak omong, orang kasi makan kucing saja gak boleh" aku masih menggerutu.
Ibukupun masih belum mau diam, "kucing-kucing itu sudah ibu beri makan tadi pagi. memang dasrnya kucing itu banyak omong meong-meong terus. yah udah biasa dia mengeong terus"
"Ahh sudahlah tidak ada gunanya aku meladeni omongan ibuku" gerutu sevilen dalam hati. meskipun ia masih merasa jengkel dan kesal pada ibu dan neneknya toh dia tidak bisa berbuat apa apa yang lebi. ia hanya bisa membenamkan mukanya pada bantal keroppi kesayangannya dan menghembuskan nafas dalam-dalam. Sayup-sayup masih terdengar ibu dan neneknya berdebat, biarlah.. sevilen memang selalu merasa benar dengan apa yang dilakukannya dan lebih memilih mengurung diri dikamar saat emosinya sedang meluap. Ia enggan membantu ibunya mengerjakan tugas rumah, karena menurut sevilen itu tidak penting!! Anggap saja itu balasan karena sevilen di marahi tadi. Didalam kemarahannya sevilen berkata dalam hati kalau kelak jika ia menjadi orang kaya, ia akan memelihara banyak kucing.
Rasa sayangnya yang besar terhadap kucing membuatnya benar-benar berjuang mati-matian di bangku kuliah dan di dunia bisnisnya. Hingga 7 tahun kemudian sevilen menjadi sosok wanita yang sukses dan dihormati banyak orang. 
"Aaah akhirnya aku memiliki rumah mewah, mobil mewah, di hormati banyak orang, rasanya seperti surga. ini adalah hidup yang aku idam-idamkan. hahaha" tawa sevilen pecah siang itu di dalam rumah barunya di kawasan perumahan elit. Orang tuanya juga sangat bangga memiliki anak seperti sevilen, apalagi sevilen tidak melupakan keluarganya saat ia sudah sukses. Setiap bulan Sevilen selalu mengirim uang pada keluarganya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Dan seperti perkataannya 7 tahun silam, memang benar sevilen telah menepati janjinya. Ia membeli 10 ekor kucing jantan dan betina sekaligus dengan ras yang berbeda-beda. Ia sangat menyayangi kucing-kucingnya dan tidak akan pernah membiarkan kucing kucingnya kelaparan. 2 tahun telah berlalu, kini kucing yang dimiliki sevilen sudah cukup banyak sehingga ia harus membuat rumah untuk kucingnya sendiri, total kucing yang dimilikinya saat ini adalah 213 kucing. Ia benar benar bangga dengan kucing kucing kesayangannya itu.
Hingga tiba saatnya perusahan Sevilen telah bangkrut, hutangnya berceceran dimana mana, rumahnya disita oleh bank yang menyebabkan ia harus terpaksa tinggal d rumah persegi yang dihuni oleh ke 213 kucingnya. Jangankan untuk memberi makan kucingnya lagi, untuk makan dirinya sendiri saja Sevilen sudah terpontang panting. Pembantu-pembantunya yang dulu setia memberi makan kucing-kucingnya kini telah kabur sendiri karena Sevilen tak lagi mampu membayarnya. Kini kucing kucing itu tak lagi terurus, bahkan pohon besar yang berada di tengah tengah kandang kucing itu telah rusak karena di cakar dan di gigit oleh kucing kucingnya. Daun daun yang jatuh habis dilahap kucing kucing itu, bahkan tak ada satu tikuspun yang berani keliaran di kandang itu, padahal dulu kucing-kucing sevilen tidak pernah memakan tikus dan sejenis daging lainnya. Mereka termasuk kucing-kucing yang manis.
Suatu malam saat sevilen tertidur nyenyak di antara ratusan kucingnya, ia merasa ada sesuatu yang geli di kaki dan tangannya. Tapi ia berusaha untuk tidak hiraukan itu, karena rasa kantuk luar biasa yang ia rasakan hingga geli yang ia rasakan itu hampir tidak terasa lagi.
Pagi itu Sevilen merasa bangun agak kesiangan... Tapi tunggu... bukan itu masalahnya, ia merasa ada sesuatu yang ngilu di tangan dan kakinya. Tapi ia tetap berusaha bangun dengan bersusah payah, kini Sevilen telah terduduk dengan mata yang masih sedikit terpejam sebelum akhirnya matanya yang elok itu terbelalak mendapati tangan dan kaki kirinya sudah tak berwujud. "Aaaaaaarrrgghhh ada apa ini?? apa yang terjadi dengan tangan dan kakiku?? Aww sakit, perih sekali Ya Tuhan" Darah berceceran dimana mana, Sevilen menangis sejadi-jadinya, berteriak meminta tolong seperti orang gila. Saking paniknya, dia tak menyadari bahwa ada ratusan kucing yang saat ini sedang menggeram kelaparan mengitari dirinya dengan sorot mata tajam siap mencabik cabik dagingnya. "Tidak. Tidak.. jangan lakukan lagi" Kucing-kucing itu semakin mendekat, Sevilen masih saja berbicara, "Tidak.. kalian bukan kanibal, kalian bukan kanibal. Tidaaaaaaaaak" Dan....... yah... kini hanya terlihat darah yang berceceran dimana mana dengan wajah buas kucing-kucing Sevilen.