Sevilen.. gadis pecinta kucing itu memiliki
rutinitas wajib setiap paginya, yaitu memberi makan kucing. Bahkan tak jarang
ia berdebat dengan neneknya gara gara neneknya itu tidak suka sevilen yang terlalu
sayang dan memanjakan kucing-kucing itu dengan memberi mereka makan setiap
pagi dan sore. Karena sevilen anak yang pembangkang pada dasarnya, ia sering tak bisa
menahan emosinya untuk membantah perkataan neneknya agar sevilen masih tetap bisa memberi makan kucing-kucing kesayangannya itu, hingga berkhir selalu
ibunya yang melerai dengan marah-marah dan juga ikut memarahi sevilen yang dia
rasa tidak ada sopan-sopannya pada orang tua. seperti pagi ini..
Brakk!! sevilen membanting pintu kamarnya sambil berteriak "suka suka aku dong mau kasih makan kucing kek, enggak kek. Itu juga kucing-kucingku sendiri" Oh Shit!!..
"Hei sevilen, jangan menjadi anak pembangkang kau. siapa yang masak nasi kalau bukan nenek?? hah?? tidak sopan sekali pada orang tua" ibuku ikut berteriak sedangkan nenek hanya diam.
"Lagian siapa suruh nenek banyak omong, orang kasi makan kucing saja gak boleh" aku masih menggerutu.
Ibukupun masih belum mau diam, "kucing-kucing itu sudah ibu beri makan tadi pagi. memang dasrnya kucing itu banyak omong meong-meong terus. yah udah biasa dia mengeong terus"
"Ahh sudahlah tidak ada gunanya aku meladeni omongan ibuku" gerutu sevilen dalam hati. meskipun ia masih merasa jengkel dan kesal pada ibu dan neneknya toh dia tidak bisa berbuat apa apa yang lebi. ia hanya bisa membenamkan mukanya pada bantal keroppi kesayangannya dan menghembuskan nafas dalam-dalam. Sayup-sayup masih terdengar ibu dan neneknya berdebat, biarlah.. sevilen memang selalu
merasa benar dengan apa yang dilakukannya dan lebih memilih mengurung diri
dikamar saat emosinya sedang meluap. Ia enggan membantu ibunya mengerjakan
tugas rumah, karena menurut sevilen itu tidak penting!! Anggap saja itu balasan
karena sevilen di marahi tadi. Didalam kemarahannya sevilen berkata dalam
hati kalau kelak jika ia menjadi orang kaya, ia akan memelihara banyak kucing.
Rasa sayangnya yang besar terhadap kucing
membuatnya benar-benar berjuang mati-matian di bangku kuliah dan di dunia
bisnisnya. Hingga 7 tahun kemudian sevilen menjadi sosok wanita yang sukses dan
dihormati banyak orang.
"Aaah akhirnya aku memiliki rumah mewah, mobil mewah, di hormati banyak orang, rasanya seperti surga. ini adalah hidup yang aku idam-idamkan. hahaha" tawa sevilen pecah siang itu di dalam rumah barunya di kawasan perumahan elit. Orang tuanya juga sangat bangga memiliki anak seperti sevilen, apalagi sevilen tidak melupakan keluarganya saat ia sudah sukses. Setiap bulan Sevilen selalu mengirim uang pada keluarganya untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Dan seperti perkataannya 7 tahun silam, memang benar
sevilen telah menepati janjinya. Ia membeli 10 ekor kucing jantan dan betina
sekaligus dengan ras yang berbeda-beda. Ia sangat menyayangi kucing-kucingnya dan tidak akan pernah membiarkan kucing kucingnya kelaparan. 2 tahun telah
berlalu, kini kucing yang dimiliki sevilen sudah cukup banyak sehingga ia harus
membuat rumah untuk kucingnya sendiri, total kucing yang dimilikinya saat ini
adalah 213 kucing. Ia benar benar bangga dengan kucing kucing kesayangannya
itu.
Hingga tiba saatnya perusahan Sevilen telah
bangkrut, hutangnya berceceran dimana mana, rumahnya disita oleh bank yang
menyebabkan ia harus terpaksa tinggal d rumah persegi yang dihuni oleh ke 213
kucingnya. Jangankan untuk memberi makan kucingnya lagi, untuk makan dirinya
sendiri saja Sevilen sudah terpontang panting. Pembantu-pembantunya yang dulu
setia memberi makan kucing-kucingnya kini telah kabur sendiri karena Sevilen
tak lagi mampu membayarnya. Kini kucing kucing itu tak lagi terurus, bahkan
pohon besar yang berada di tengah tengah kandang kucing itu telah rusak karena
di cakar dan di gigit oleh kucing kucingnya. Daun daun yang jatuh habis dilahap
kucing kucing itu, bahkan tak ada satu tikuspun yang berani keliaran di kandang
itu, padahal dulu kucing-kucing sevilen tidak pernah memakan tikus dan sejenis
daging lainnya. Mereka termasuk kucing-kucing yang manis.
Suatu malam saat sevilen tertidur nyenyak
di antara ratusan kucingnya, ia merasa ada sesuatu yang geli di kaki dan
tangannya. Tapi ia berusaha untuk tidak hiraukan itu, karena rasa kantuk luar
biasa yang ia rasakan hingga geli yang ia rasakan itu hampir tidak terasa lagi.
Pagi itu Sevilen merasa bangun agak kesiangan... Tapi tunggu... bukan itu masalahnya, ia merasa
ada sesuatu yang ngilu di tangan dan kakinya. Tapi ia tetap berusaha bangun
dengan bersusah payah, kini Sevilen telah terduduk dengan mata yang masih
sedikit terpejam sebelum akhirnya matanya yang elok itu terbelalak mendapati tangan dan kaki kirinya sudah tak berwujud. "Aaaaaaarrrgghhh ada apa ini?? apa yang terjadi dengan tangan dan kakiku?? Aww sakit, perih sekali Ya Tuhan" Darah berceceran dimana mana, Sevilen menangis sejadi-jadinya, berteriak meminta tolong seperti orang gila. Saking
paniknya, dia tak menyadari bahwa ada ratusan kucing yang saat ini sedang menggeram kelaparan mengitari dirinya dengan sorot mata tajam siap mencabik cabik dagingnya. "Tidak. Tidak.. jangan lakukan lagi" Kucing-kucing itu semakin mendekat, Sevilen masih saja berbicara, "Tidak.. kalian bukan kanibal, kalian bukan kanibal. Tidaaaaaaaaak" Dan....... yah... kini hanya terlihat darah yang berceceran dimana mana dengan wajah buas kucing-kucing Sevilen.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar