Rabu, 25 Februari 2015

Eksekusi Dahlia

Short Story ini saya ambil dari Naskah Lakon yang diberikan guru Teater saya sekitar 6 th yang lalu kepada saya. 

Note: JP=Jaksa Penuntut.
Di sebuah ruangan persidangan terdengar suara gemuruh para tamu persidangan, orang  orang itu sedang membicarakan tentang perempuan cantik yang menjadi tersangka pengancaman pada kepala sekolahnya sendiri…
Hakim : sidang terdakwah Dahlia di mulai…(mengetuk palu sidang) kepada terdakwah dipersilahkan hadir dalam ruang sidang.
Dahlia  : Selamat pagi bapak hakim yang terhormat.
Hakim : Selamat pagi.Apakah saudari Dahlia telah siap mengikuti persidangan ini??
Dahlia  : Siap Pak hakim.
Hakim : Baiklah saudari Dahlia. Kepada jaksa penuntut di persilahkan untuk menguraikan tuntutannya.
JP 1     : Terimakasih pak hakim (sambil berdiri). Saudari dahlia, saya mempunyai beberapa pertanyaan untuk anda.
Dahlia  : Sepatutnya seorang terdakwah akan di kumpulkan dengan semua yang bernama pertanyaan. Sebab apa dia berbuat ke………………
JP 1     : Saya minta anda tidak menjawab dulu, sebelum saya meminta anda tidak membela dulu. (dengan nada sedikit marah).
Pengacara        : Instruksi pak hakim, saya mohon tidak seharusnya jaksa penuntut bertanya dengan nada keras pada klien saya (dengan berdiri).
Hakim : Instrukssi di terima, saya mohon pada jaksa penuntut agar bertanya dengan nada yang tidak membentak.
JP 1     : Baik, saya mohon maaf pak hakim, saudari Dahlia pertanyaan pertama saya adalah, apakah benar umur anda saat ini adalah 25 tahun??
Dahlia  : Ya…apakah itu perlu?? (dengan nada sedikit sinis).
JP 1     : 25 tahun?? Berarty anda sudah dewasa, boleh saya tahu mengapa anda masih berada di bangku SMA dengan umur anda segitu, seharusnya anda sudah kuliah, kerja, atau mungkin anda sudah menikah.
Dahlia : Ya, umur saya 25 tahun, benar saya masih berada di bangku SMA, memangjarang perempuan dengan usia 25 tahun masih berada di bangku sekolah SMA?? Tapi harap anda ketahui, saya adalah murid yang tak pernah naik kelas. Walaupun saya naik kelas, saya harus mau menjadi orang dungu seperti kambing conge’ yang siap di cekoki dengan pelajaran rongsokan dan jauh dari realita. Sayalah siswi pembantah para guru itu, dan mereka mencoreng nama saya dengan nilai merah. Rendah, serendah mereka menginjak ilmu pengetahuan.
JP 1     : Dahlia, di negeri ini masih banyak orang yang sekolah hanya menginginkan pekerjaan bukan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.Berapa pejabat yang telah memalsukan ijazah hanya demi sebuah pekerjaan??
JP 2     : Cukup…Saudari Dahlia, anda di kenal sebagai siswi kritis,dan anda begitu berani ketika membantah pelajaran yang di sampaikan guru guru anda.
Dahlia  : Kesadaran adalah matahati yang selalu terbit di hati orang orang yang berani melakukan perubahan untuk dapat lebih baik, resiko orang sadar adalah terkucilkan.
JP 2     : bukan itu maksud saya, yang saya maksud ialah anda sama saja memberi contoh pada teman anda agar mereka menjadi seorang pembantah.
Dahlia  :Setiap pelajaran yang baik dan sesuai dengan realita tidak layak untuk di bantah, tapi bila pelajaran yang sudah disalah artikan dengan teori teori yang tak sesuai dengan realita serta maksud ilmu pengetahuan itu sendiri, maka mengapa saya harus mempelajari pelajaran seperti itu??
JP 2     : Semua pelajarann di sekolah begitu banyak manfaatnya, lalu apa yang menurut anda, dan pelajaran apa yang kurang baik??
Dahlia  : Tidak semua pelajaran di sekolah itu buruk namun system pendidikan saja yang kurang efektif, semua serba komersil, hingga akhirnya sekolah menjai komoditas baru yang paling menggiurkan.
JP 2     : Tolong anda buktikan apa aja yang menjadi kekuarangan pelajaran di sekolah sekolah kita??
Dahlia  : Baik, dalam pelajaran sejarah, kita mendapatkan sejarah hanya sepotong. Dalam isi sejarah terdapat manipulasi dan semua bersifat kepentingan penguasa pada waktu itu, dan dalam pelajaran ekonomipun kita di didik untuk menjadi manusi yang rakus.
JP 1     : Saudari Dahlia, anda begitu lancang berkata demikian  pada dunia pendidikan kita. Tolong anda jelaskan dengan singkat.
Dahlia  : Dalam pelajaran Ekonomi, anda pasti pernah tau keluarkanlah modal sedikit mungkin dan ambilah untung sebanyak-banyaknya.
JP 1     : Saudari Dahlia, apakah anda sadar mangapa berada didalam ruangan ini???
Dahlia  :  saya sangat sadar pak jaksa…
Pengacara        : Instruksi pak hakim. Pertanyaan jaksa penuntut 2 belum selesai, saya mohon agar jaksa penuntut bertanya satu persatu kepada klien saya.
Hakim : Instruksi diterima, kepada jaksa penuntut di minta agar bertanya satu persatu.
Jp 2      : Baiklah maafkan kami pak hakim. Baiklah, saudari Dahlia saya bertanya pada inti masalahnya,  Apakah dasar anda ketika ingin mengancam kepala sekolah anda??
Dahlia  : Kepala sekolah saya itu adalah penjahat pendidikan, dia  seorang mafia pendidikan.
JP 2     : Maksud anda??
Dahlia  : Maksud saya bisa anda mengerti jika anda mengizinkan saya menghadirkan seorang teman saya, bagaimana pak hakim??
Hakim : Permohonan di persilahkan.
(Datang perempuan berkerudung lusuh bernama Lia duduk di samping Dahlia)
Lia       : selamat pagi bapak hakim yang terhormat.
Hakim : Selamat pagi juga, Saudari lia apakah saudari berjanji akan mengatakan semua dengan benar sebenar benarnya dan sejujur jujurnya??
Lia       : Saya berjanji…………
Hakim : Baiklah, lanjutkan pertanyaan anda jaksa penuntut.
JP 2     : Saudari Lia apakah anda teman Dahlia sekolah??
Lia       : iya
Jp 2      : Saudara Lia, apa yang anda ketahui tentang kepala sekolah anda. Apakah benar beliau telah melakukan kejahatan pendidikan??
Lia       : iii….i…i…iya pak…..
JP 1     : Bapak hakim, bolehkah saya bertanya pada saudari Lia??
Hakim : Yah…
JP 1     : Saudari Lia, apa yang anda ketahui tentang sistem pendidikan di sekolah anda dan bagaimana tentang perilaku kepala sekolah anda dalam mengatur sekolah??
Lia       : Setahu saya beliau adalah orang yang terpandang. Dengan gelar dan jabatannya, beliau bisa seenaknya bisa memungut harga buku yang lumayan mahal, SPP yang membengkak hingga pemungutan untuk lainnya seperti pembangunan laboratorium, yang sampai ini belum ada wujud laboratorium.
JP 1     : Saudari Lia apakah anda tahu, bagaimana ketika saudari Dahlia mengancam kepala sekolah anda??
Lia       : Sebenarnya ancaman itu keluar dari siswa siswi semua dan beberapa orang guru yang telah muak dengan ulah kepala sekolah atau yayasan yang sering menyunat hak para guru, dia begitu korup pak.
JP 1     : Pertanyaan saya cukup sekian dulu pak hakim.
Hakim : Kepada terdakwah Dahlia…Apakah anda ada pembelaan??
Dahlia  : Ada…semua akan di jawab oleh pengacara saya pak hakim…
Pengacara        : Pak hakim, menurut saya kasus yang satu ini adalah masalah yang marak di negeri kita sendiri pak hakim, dimana ruang keilmuan tak pernah di beri tempat istimewa, apakah ini sebuah ketakutan bila rakyatnya pintar lalu menjadi seorang pembantah, sayapun kurang tahu.
Hakim : Lalu apa yang salah dalam kasus ini??
Pengacara        : Sistem pendidikan kita pak hakim, pendidikan kita yang tekstual jauh dengan ralita  jawaban akan tuntutan zaman. Semua teori kita bersifat doktrin.
Hakim : Langsung saja ke soal kasus ini??
Pengacara        : Bapak hakim jika anda semua mau sedikit berimajinasi dengan akal sehat mungkin kasus ini akan segera bisa diselesaikan dan saya yakin pak hakim, bila anda mau mengikuti perkataan saya, anda semua akan berkata “Dahlia kau hebat…. Dahlia kau bebas tanpa syarat”
Hakim : Bagaimana caranya??
Pengacara        : Begini caranya, coba anda bayangkan bila ada seorang yang kaya raya semua kekayaanya itu dihasilkan dari sekolah yang telah reyot, saking kayanya ia bisa membeli pengacara seperti saya,ia juga bisa membeli guru,, membeli mercy………. Dan bisa membeli apa  saja, sampai sampai ia bisa membeli harga diri kita semua pak hakim.  Sungguh mengenaskan bukan?????
JP 1     : Pak hakim instruksi……..
Hakim : Tunggu dulu kami sedang berimajinasi…..terus-terus terus apa lagi….
JP 1     : Tapi pak hakim ini sudah diluar jalur persidangan. Pengacara itu sudah menghinoptis anda pak hakim
Pengacara        : Bukankah uang yang bisa menghipnotis manusia (mengeluarkan uang dari sakunya 100 ribuan)
JP 1     : Pak hakim……
Pengacara        : Bayangkan pak hakim, dengan uang ini anda bisa dibeli apa lagi kasus sekecil ini anda pun bisa mempermainkan lidah orang-orang pintar dengan uang ini. Jika pendidikan hanya melahirkan manusia yang rakus dan kebobrokan moral dimana-mana, dan etika pendidikan kita hanya melahirkan nyanyian tentang maju perut pantat mundur……… maju perut pantat mundur………….
JP 2     : Pak hakim saya instruksi.
Hakim : instruksi di terima.
Jp 2      : Pak hakim ini sudah penyindiran pada persidangan ini.
Pengacara        : Bukankah sindiran di negeri ini hanya di jadikan angin lewat saja, bukankah yang penting maju perut pantat mundur…..maju perut pantat mundur…..walau dengan jalan dosa, walau dengan trik licik.
JP 2     : Ini sudah keterlaluan pak hakim.
Dahlia  : Lebih keterlaluan siapa?? Dia (menunjuk pada pengacara) dengan orang orang yang membunuh nurani dengan ocehan nurani, atau mereka yang membunuh takbir dengan takbirnya sendiri.
(keadaan menegang)
JP 1     : Ini persidangan!!!
Pengacara        : Tapi ini kebenaran bukan??
JP 2     : ini adalah ruang terhormat.
Lia       : Tapi inilah tempat menceritakan orang orang yang tak bisa di hormati bukan??
JP 2     : Oooooohhhhh………….. tuhan ini benar benar ruang orang orang idiot.
Pengacara        : Perampok di jalan tuhan dan perampok uang rakyat pun sering menyebut nama tuhan dalam kejahatannya.
Hakim : Hentikan.
Lia, Dahlia, Pengacara            : Yah….Kapankah kita bisa menghentikan kecurangan, pembodohan, dan penindasan ini???
Dahlia  : Hai bapak hakim………. Apakah anda ingin tahu yang sebenarnya?? Kepala sekolah itu sebenarnya tergila gila pada kecantikan saya pak hakim, ia begitu terlena melihat keseksian tubuh saya yang terus merekah hingga ia sering mengintip saya ketika belajar, ketika rok celana saya trsingkap gara gara saya mengusir drakula kecil bernama nyamuk…. Wajah kepala sekolah itu berbinar, ia menelan ludahnya sendiri dengan perlahan. Seperti ini pak hakim uuuuuhhhh……. Yah, dia dalah penjahat bertopeng pahlawan, makannya saya mengancam dia dengan menyebarkan sebuah gelar untuknya tuan hakim, anda tahu apa gelar untuk kepala sekolah saya itu??  Inilah julukannya “maju perut pantat mundur…… maju perut pantat mundur…..” saya hanya mengancam seperti itu.Apa saya salah pak hakim?? Dia telah menjadikan dunia pendidikan menjadi komoditas yang paling seksi pak hakim, yah……. Itulah cerita yang sebenarnya.
Hakim, JP 1, JP2: Dahlia, kamu hebat….. Dahlia, kamu bebas tanpa syarat.
Dahlia  : Apa?? Apakah benar pak hakim??Alhamdulillah…(semua memberi selamat).

Akhirnya persidangan Dahlia telah selasai, Dahlia di nyatakn bebas dan kepala sekolah di jebloskan ke dalam penjara selama  3 tahun penjara atas tuduhan pencemaran nama baik.

Bagaimana menurut anda tentang pendidikan di Indonesia saat ini???

Tidak ada komentar:

Posting Komentar