Short Story ini saya ambil dari Naskah Lakon yang diberikan guru Teater saya sekitar 6 th yang lalu kepada saya.
Note: JP=Jaksa Penuntut.
Di sebuah
ruangan persidangan terdengar suara gemuruh para tamu persidangan, orang orang itu sedang membicarakan tentang
perempuan cantik yang menjadi tersangka pengancaman pada kepala sekolahnya
sendiri…
Hakim : sidang terdakwah
Dahlia di mulai…(mengetuk palu sidang) kepada terdakwah dipersilahkan hadir
dalam ruang sidang.
Dahlia :
Selamat pagi bapak hakim yang terhormat.
Hakim :
Selamat pagi.Apakah saudari Dahlia telah siap mengikuti persidangan ini??
Dahlia : Siap Pak hakim.
Hakim : Baiklah saudari
Dahlia. Kepada jaksa penuntut di persilahkan untuk menguraikan tuntutannya.
JP 1 : Terimakasih pak
hakim (sambil berdiri). Saudari dahlia, saya mempunyai beberapa pertanyaan
untuk anda.
Dahlia : Sepatutnya seorang
terdakwah akan di kumpulkan dengan semua yang bernama pertanyaan. Sebab apa dia
berbuat ke………………
JP 1 : Saya minta anda
tidak menjawab dulu, sebelum saya meminta anda tidak membela dulu. (dengan nada
sedikit marah).
Pengacara : Instruksi
pak hakim, saya mohon tidak seharusnya jaksa penuntut bertanya dengan nada
keras pada klien saya (dengan berdiri).
Hakim : Instrukssi di terima,
saya mohon pada jaksa penuntut agar bertanya dengan nada yang tidak membentak.
JP 1 : Baik, saya mohon
maaf pak hakim, saudari Dahlia pertanyaan pertama saya adalah, apakah benar
umur anda saat ini adalah 25 tahun??
Dahlia : Ya…apakah itu
perlu?? (dengan nada sedikit sinis).
JP 1 : 25 tahun?? Berarty
anda sudah dewasa, boleh saya tahu mengapa anda masih berada di bangku SMA
dengan umur anda segitu, seharusnya anda sudah kuliah, kerja, atau mungkin anda
sudah menikah.
Dahlia : Ya, umur saya 25 tahun, benar saya masih berada di bangku
SMA, memangjarang perempuan dengan usia 25 tahun masih berada di bangku sekolah
SMA?? Tapi harap anda ketahui, saya adalah murid yang tak pernah naik kelas.
Walaupun saya naik kelas, saya harus mau menjadi orang dungu seperti
kambing conge’ yang siap di cekoki dengan pelajaran rongsokan dan jauh dari
realita. Sayalah siswi pembantah para guru itu, dan mereka mencoreng nama saya
dengan nilai merah. Rendah, serendah mereka menginjak ilmu pengetahuan.
JP 1 : Dahlia, di negeri ini masih banyak orang yang sekolah hanya menginginkan
pekerjaan bukan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.Berapa pejabat yang telah
memalsukan ijazah hanya demi sebuah pekerjaan??
JP 2 : Cukup…Saudari Dahlia, anda di kenal sebagai siswi kritis,dan
anda begitu berani ketika membantah pelajaran yang di sampaikan guru guru anda.
Dahlia : Kesadaran adalah matahati yang selalu terbit di hati orang orang
yang berani melakukan perubahan untuk dapat lebih baik, resiko orang sadar
adalah terkucilkan.
JP 2 : bukan itu maksud saya, yang saya maksud ialah anda sama saja
memberi contoh pada teman anda agar mereka menjadi seorang pembantah.
Dahlia :Setiap pelajaran yang baik dan sesuai dengan realita tidak layak
untuk di bantah, tapi bila pelajaran yang sudah disalah artikan dengan teori
teori yang tak sesuai dengan realita serta maksud ilmu pengetahuan itu sendiri,
maka mengapa saya harus mempelajari pelajaran seperti itu??
JP 2 : Semua pelajarann di sekolah begitu banyak manfaatnya, lalu apa
yang menurut anda, dan pelajaran apa yang kurang baik??
Dahlia : Tidak semua pelajaran di sekolah itu buruk namun system
pendidikan saja yang kurang efektif, semua serba komersil, hingga akhirnya
sekolah menjai komoditas baru yang paling menggiurkan.
JP 2 : Tolong anda buktikan apa aja yang menjadi kekuarangan
pelajaran di sekolah sekolah kita??
Dahlia : Baik, dalam pelajaran sejarah, kita mendapatkan sejarah hanya
sepotong. Dalam isi sejarah terdapat manipulasi dan semua bersifat kepentingan
penguasa pada waktu itu, dan dalam pelajaran ekonomipun kita di didik untuk
menjadi manusi yang rakus.
JP 1 : Saudari Dahlia, anda begitu lancang berkata demikian pada dunia pendidikan kita. Tolong anda
jelaskan dengan singkat.
Dahlia : Dalam pelajaran Ekonomi, anda pasti pernah tau keluarkanlah modal
sedikit mungkin dan ambilah untung sebanyak-banyaknya.
JP 1 : Saudari Dahlia, apakah anda sadar mangapa
berada didalam ruangan ini???
Dahlia : saya
sangat sadar pak jaksa…
Pengacara : Instruksi pak hakim. Pertanyaan jaksa
penuntut 2 belum selesai, saya mohon agar jaksa penuntut bertanya satu persatu
kepada klien saya.
Hakim : Instruksi diterima, kepada jaksa penuntut di
minta agar bertanya satu persatu.
Jp 2 : Baiklah maafkan kami pak hakim. Baiklah,
saudari Dahlia saya bertanya pada inti masalahnya, Apakah dasar anda ketika ingin mengancam
kepala sekolah anda??
Dahlia : Kepala sekolah saya itu adalah penjahat pendidikan, dia seorang mafia pendidikan.
JP 2 : Maksud anda??
Dahlia : Maksud saya bisa anda mengerti jika anda mengizinkan saya
menghadirkan seorang teman saya, bagaimana pak hakim??
Hakim : Permohonan di persilahkan.
(Datang perempuan berkerudung
lusuh bernama Lia duduk di samping Dahlia)
Lia : selamat pagi bapak hakim yang
terhormat.
Hakim : Selamat pagi juga, Saudari lia apakah saudari
berjanji akan mengatakan semua dengan benar sebenar benarnya dan sejujur
jujurnya??
Lia : Saya berjanji…………
Hakim : Baiklah, lanjutkan pertanyaan anda jaksa
penuntut.
JP 2 : Saudari Lia apakah anda teman Dahlia
sekolah??
Lia : iya
Jp 2 : Saudara Lia, apa yang anda ketahui
tentang kepala sekolah anda. Apakah
benar beliau telah melakukan kejahatan pendidikan??
Lia : iii….i…i…iya pak…..
JP 1 : Bapak hakim, bolehkah saya bertanya pada saudari Lia??
Hakim : Yah…
JP 1 : Saudari Lia, apa yang anda ketahui tentang sistem pendidikan
di sekolah anda dan bagaimana tentang perilaku kepala sekolah anda dalam
mengatur sekolah??
Lia : Setahu saya beliau adalah orang yang terpandang. Dengan
gelar dan jabatannya, beliau bisa seenaknya bisa memungut harga buku yang
lumayan mahal, SPP yang membengkak hingga pemungutan untuk lainnya seperti
pembangunan laboratorium, yang sampai ini belum ada wujud laboratorium.
JP 1 : Saudari Lia apakah anda tahu, bagaimana ketika saudari Dahlia
mengancam kepala sekolah anda??
Lia : Sebenarnya ancaman itu keluar dari siswa siswi semua dan
beberapa orang guru yang telah muak dengan ulah kepala sekolah atau yayasan
yang sering menyunat hak para guru, dia begitu korup pak.
JP 1 : Pertanyaan saya cukup sekian dulu pak hakim.
Hakim : Kepada terdakwah Dahlia…Apakah anda ada pembelaan??
Dahlia : Ada…semua akan di jawab oleh pengacara saya pak hakim…
Pengacara : Pak hakim, menurut saya kasus yang satu ini adalah masalah
yang marak di negeri kita sendiri pak hakim, dimana ruang keilmuan tak pernah
di beri tempat istimewa, apakah ini sebuah ketakutan bila rakyatnya pintar lalu
menjadi seorang pembantah, sayapun kurang tahu.
Hakim : Lalu apa yang salah dalam kasus ini??
Pengacara : Sistem pendidikan kita pak hakim, pendidikan kita yang
tekstual jauh dengan ralita jawaban akan
tuntutan zaman. Semua teori kita bersifat doktrin.
Hakim :
Langsung saja ke soal kasus ini??
Pengacara : Bapak hakim jika anda semua mau sedikit berimajinasi dengan
akal sehat mungkin kasus ini akan segera bisa diselesaikan dan saya yakin pak
hakim, bila anda mau mengikuti perkataan saya, anda semua akan berkata “Dahlia
kau hebat…. Dahlia kau bebas tanpa syarat”
Hakim :
Bagaimana caranya??
Pengacara : Begini caranya, coba anda bayangkan bila ada seorang yang
kaya raya semua kekayaanya itu dihasilkan dari sekolah yang telah reyot, saking
kayanya ia bisa membeli pengacara seperti saya,ia juga bisa membeli guru,,
membeli mercy………. Dan bisa membeli apa
saja, sampai sampai ia bisa membeli harga diri kita semua pak hakim. Sungguh mengenaskan bukan?????
JP 1 :
Pak hakim instruksi……..
Hakim :
Tunggu dulu kami sedang berimajinasi…..terus-terus terus apa lagi….
JP 1 :
Tapi pak hakim ini sudah diluar jalur persidangan. Pengacara itu sudah
menghinoptis anda pak hakim
Pengacara : Bukankah uang yang bisa menghipnotis manusia (mengeluarkan
uang dari sakunya 100 ribuan)
JP 1 :
Pak hakim……
Pengacara : Bayangkan pak hakim, dengan uang ini anda bisa dibeli apa
lagi kasus sekecil ini anda pun bisa mempermainkan lidah orang-orang pintar
dengan uang ini. Jika pendidikan hanya melahirkan manusia yang rakus dan
kebobrokan moral dimana-mana, dan etika pendidikan kita hanya melahirkan
nyanyian tentang maju perut pantat mundur……… maju perut pantat mundur………….
JP 2 :
Pak hakim saya instruksi.
Hakim :
instruksi di terima.
Jp 2 :
Pak hakim ini sudah penyindiran pada persidangan ini.
Pengacara : Bukankah sindiran di negeri ini hanya di jadikan angin
lewat saja, bukankah yang penting maju perut pantat mundur…..maju perut pantat
mundur…..walau dengan jalan dosa, walau dengan trik licik.
JP 2 :
Ini sudah keterlaluan pak hakim.
Dahlia :
Lebih keterlaluan siapa?? Dia (menunjuk pada pengacara) dengan orang orang yang
membunuh nurani dengan ocehan nurani, atau mereka yang membunuh takbir dengan
takbirnya sendiri.
(keadaan menegang)
JP 1 :
Ini persidangan!!!
Pengacara : Tapi ini kebenaran bukan??
JP 2 :
ini adalah ruang terhormat.
Lia :
Tapi inilah tempat menceritakan orang orang yang tak bisa di hormati bukan??
JP 2 :
Oooooohhhhh………….. tuhan ini benar benar ruang orang orang idiot.
Pengacara : Perampok di jalan tuhan dan perampok uang rakyat pun sering
menyebut nama tuhan dalam kejahatannya.
Hakim :
Hentikan.
Lia, Dahlia, Pengacara : Yah….Kapankah kita bisa
menghentikan kecurangan, pembodohan, dan penindasan ini???
Dahlia :
Hai bapak hakim………. Apakah anda ingin tahu yang sebenarnya?? Kepala sekolah itu
sebenarnya tergila gila pada kecantikan saya pak hakim, ia begitu terlena
melihat keseksian tubuh saya yang terus merekah hingga ia sering mengintip saya
ketika belajar, ketika rok celana saya trsingkap gara gara saya mengusir
drakula kecil bernama nyamuk…. Wajah kepala sekolah itu berbinar, ia menelan
ludahnya sendiri dengan perlahan. Seperti ini pak hakim uuuuuhhhh……. Yah, dia
dalah penjahat bertopeng pahlawan, makannya saya mengancam dia dengan
menyebarkan sebuah gelar untuknya tuan hakim, anda tahu apa gelar untuk kepala
sekolah saya itu?? Inilah julukannya
“maju perut pantat mundur…… maju perut pantat mundur…..” saya hanya mengancam seperti itu.Apa
saya salah pak hakim?? Dia telah menjadikan dunia pendidikan menjadi komoditas
yang paling seksi pak hakim, yah……. Itulah cerita yang sebenarnya.
Hakim, JP 1, JP2: Dahlia, kamu
hebat….. Dahlia, kamu bebas tanpa syarat.
Dahlia : Apa?? Apakah benar pak hakim??Alhamdulillah…(semua
memberi selamat).
Akhirnya persidangan
Dahlia telah selasai, Dahlia di nyatakn bebas dan kepala sekolah di jebloskan
ke dalam penjara selama 3 tahun penjara
atas tuduhan pencemaran nama baik.
Bagaimana menurut anda tentang pendidikan di Indonesia saat ini???
Tidak ada komentar:
Posting Komentar