Sabtu, 28 Februari 2015

Red Eyes!!

Ini bukan pertama kalinya aku menulis cerita horor, setidaknya ini adalah kedua kalinya aku menuliskan cerita horor. Yah.. mungkin tidak seperti cerita-cerita horor pada umunya, lebih tepatnya seperti cerita konyol. Tapi aku belajar menulis cerita horor modern ini dari sebuah halaman facebook yang sangat popular sebenarnya. Tapi aku tidak sedang membahas halaman itu.
Baiklah, hari ini aku akan menceritkan cerita horor yang tidak murni horror, tapi setidaknya ini akan membekas. Cerita ini aku beri judul Red Eye. Semua orang pasti sudah tau arti nama itu. Yah.. mata merah.
Let’s Ceck it out !!
= = = = =
Gadis kecil itu bernama Alena, jika di lihat sekilas gadis itu memang tidak berbeda sama sekali dengan gadis-gadis kecil pada umumnya yang masih duduk di bangku SD. Yang setiap pagi harus berangkat sekolah dan pulang siang, memakan roti selai kacang pada musing dingin dan bermain dengan anjing kesayangannya setiap ia pulang sekolah. Tapi menurutku Alena berbeda, sangat berbeda. Dia memiliki.. mata merah. Mungkin memang terlihat aneh, atau bahkan hanya aku sendirilah yang menyadari mata merahnya itu. Entah karena tidak ada yang memperhatikannya atau memang mata merahnya itu hanya di tunjukkan padaku ?? entahlah. Yang pasti terkadang aku merasa sedikit merinding ketika menatap matanya, oleh karena itu aku enggan menatap matanya terlalu lama. Mungkin juga terlihat sangat konyol saat seorang mahasiswi seperti aku harus takut dengan sorot mata anak SD. Tapi.. itulah yang aku rasakan.
Dan malam ini, Alena benar-benar berhasil membuatku tidak bisa tidur. Ini karena kejadian tadi sore saat tiba-tiba ia bermain dengan anjingnya di pekarangan rumah. Tidak biasanya Alena bermain dengan anjingnya sore hari, ia selalu bermain dengan Bulgigo anjing kesayangannya itu siang hari ketika ia pulang sekolah. Sedikit cerita tentang Bulgigo, aku juga sebenarnya agak paranoid jika menceritakan tentang bulgigo. Mungkin karena aku di besarkan dari keluarga yang tidak begitu menyukai anjing pada umumnya, Bulgigo adalah anjing berwarna hitam legam yang ukuran tubuhnya bisa di bilang sangat besar di banding anjing-anjing tetanggaku yang lain, bahkan ketika Alena membungkuk di sebelah anjingnya ia terlihat lebih kecil daripada bulgigo. Bulgigo juga memiliki taring yang panjang dan gigi agak kotor, ekor yang panjang mendongak keatas, dan terkadang aumannya seperti serigala. Aku pernah berfikir, apa gadis kecil seperti Alena itu tidak takut dengan sosok anjing yang menyeramkan seperti bulgigo?? Hanya membayangkan saja terkadang aku ngeri.
Kembali lagi ke topik semula, yah.. tadi siang saat Alena bermain dengan bulgigo. Tepat sekali bersamaan dengan aku pulang kuliah, dengan mengendarai sedan kesayanganku, sebenarnya aku tidak berminat sama sekali untuk melihat Alena dan anjingnya kerena aku terlalu capek dan ingin segera beristirahat, tapi aku merasa ada yang memperhatikanku sejak tadi. Tentu saja aku langsung memperhatikan sekelilingku, tidak ada siapa-siapa disana kecuali….. Yah, Alena dan anjingnya Bulgigo. Ingin sekali aku menghindari tatapan mata merahnya yang aneh, tapi kali ini aku seperti terbiyus. Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku hingga tubuhku gemetar hebat, bulu kudukku berdiri, aku merasa sore ini udara sedang tidak bersahabat hingga menimbulkan aura mistis di kulitku. Tatapan itu menurutku cukup lama, 5 menit. Sebelum akhirnya teriakan mamaku dari dalam rumah membuyarkan biyusan mata merah Alena sore itu.
“Iyah ma, aku pulang” Aku segera lari menghampiri mamaku dengan ribuan pertanyaan di otakku, apa yang barusan gadis kecil itu lakukan padaku?? Hipnotis?? Oh mungkinkah??
“Kamu lapar sayang? Mama sudah membuatkan biskuit teddy kesukaanmu” Mama selalu membuatkan biskuit teddy untukku setiap hari jumat menjelang liburan hari sabtu dan minggu. Ayolah ma, anakmu ini sudah kuliah, ia sudah dewasa, dan sudah tidak suka lagi dengan biscuit teddy. Tapi, ah.. yasudahlah, jika ini membuat mama bahagia, akan aku makan.
                                                                            ***
Dan itulah sebab mengapa malam ini aku tidak bisa tidur. Terbayang mata merah Alena. Aku semakin penasaran dengan kehidupan Alena yang sebenarnya, karena  diam-diam aku memperhitikan gerak-gerik keluarganya, atau memang hanya aku saja yang sebenarnya terlalu tertarik untuk mengetahui misteri keluarga Alena ??
Aku tidak pernah melihat Nyonya Meri sebelumnya, ibu Alena. Meski hanya untuk sekedar keluar dari rumah, ataupun tegur sapa. Dan yang aku tau dari omong-omong beberapa tetanggaku, Alena itu terlahir tanpa ayah, yah mungkin saja memang ibunya dulu bermain dengan beberapa laki-laki bajingan dan akhirnya lahirlah Alena tanpa ayah.
Tapi tidak, opiniku salah, Nyonya Meri adalah wanita yang tidak pernah keluar rumah, menghabiskan seluruh masa remajanya di dalam rumah semenjak kematian kedua orang tuanya  25 th yang lalu, Saat itu Nyonya Meri berusia 15 tahun. Dan saat berusia 28 tahun tiba tiba Nyonya Meri melahirkan seorang bayi perempuan yaitu Alena. Padahal, ia tidak pernah keluar rumah selama 25 tahun belakangan itu, ada yang mengira bahwa itu adalah anak dari penjaga rumah Nyonya Meri sendiri, tapi kalau diperhatikan Alena tidak ada mirip-miripnya dengan Tuan Boutros penjaga rumah Nyonya Meri, lalu bagaimana ia menghidupi keluarganya selama ini, jika memang benar Nyonya Meri tidak pernah keluar rumah ??
Ah.. aku sendiri masih penasaran dan berminat ingin membuka rahasia besar keluarga Alena meski terkadang mamaku selalu mengalihkan ketika aku bertanya tentang Nyonya Meri dan keluarganya. Aku tau semua cerita itu dari tetangga sebelah barat rumahku, karena sebenarnya aku bukan penduduk asli Moskow, aku pindak dari Irlandia beberapa tahun yang lalu. Dan perlu kalian ketahui, aku belum pernah bertemu dengan wajah asli Nyonya Meri. Aneh bukan ?? Sedangkan aku sudah pindah kesini sejak 4 tahun yang lalu.
Malam ini aku tetap mencoba untuk menutup mataku, meski besok adalah hari libur, tapi aku tetap memiliki jadwal padat sejak pagi. Membantu mama di rumah, hingga mengerjakan beberapa tugas kuliah yang masih menumpuk.
Dan sekitar 2 jam kemudian aku baru terlelap dalam tidur, sayangnya 1 jam kemudian mamaku harus mengetuk-ngetuk pintu kamarku karena jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi. Ah.. Ssiall, aku hanya tidur 1 jam semalaman. Aku memang sengaja membuat perjanjian dengan mamaku hari ini untuk bangun pagi, berolahaga dan membersihkan pekarangan rumah yang sudah mulai kotor. Ini kesempatanku untuk memperhatikan rumah Alena sejak pagi, siapa tahu aku menemukan beberapa petunjuk.
                                                                             ***
Ketika aku berolahraga dan melewati depan rumah Alena, aku melihat sosok bayangan seorang laki-laki yang tinggi besar dan sepertinya berambut panjang, aku menyebutnya laki-laki karena bayangan tubuh itu tinggi besar. Aku penasaran siapa bayangan itu ?? tidak mungkin jika ku jawab itu Tuan Boutros, sedangkan yang aku tau Tuan Boutros badannya sudah agak membungkuk karena di makan usia. Aku coba bertanya keanehan itu pada mamaku tapi mama selalu mengatakan tidak ada siapa-siapa di rumah itu kecuali Nyonya Meri, dan anaknya Alena.
Aku sedikit percaya meski masih terasa ganjil, karena bagaimanapun juga mamaku pernah bertemu dengan Nyonya Meri meski cuma sekali selama 4 tahun kami disini, dari cerita mamaku sih Nyonya Meri itu adalah wanita yang sangat cantik, kulitnya putih mulus dan rambutnya hitam panjang, hanya saja.. wajahnya terlihat agak pucat dan seperti kelelahan.
Ada apa dengan Nyonya Meri ??
Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, setelah berolahraga dan beakfast aku segera mandi dan ganti baju untuk membersihkan pekarangan rumah seperti perjanjianku kemaren dengan mama.
Di tengah-tengah kesibukanku membersihkan halaman rumah, aku melihat Tuan Boutros keluar dari gerbang rumah Alena. Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, tanpa seizin mama aku langsung lari menghampiri Tuan Boutros.
“Selamat pagi Tuan Boutros, senang sekali bisa bertemu dengan anda” aku coba mengajaknya bicara dengan senyum merekah di bibirku, sayangnya Tuan Boutros terlihat sangat dingin.
“Selamat pagi Zafara, sebelumnya aku tidak terlalu mengenalmu kecuali hanya sebuah nama” kemudian ia berlalu begitu saja. Ah.. sial!! Mengapa orang-orang yang ada dalam keluarga ini sangat aneh, tidak Nyonya Meri, Alena, Tuan Boutros atau bahkan anjingnya Bulgigo.
Dari halaman rumah, terdengan suara mama memanggilku, memecahkan lamunanku yang mulai curiga kembali dengan kehidupan Alena yang sebenarnya.
“Iya ma, Zara kembali” Aku segera berlari kembali ke rumah.
“Apa yang kamu lakukan barusan dengan Tuan Boutros??” Mama sepertinya tidak suka aku berbicara dengan Tuan Boutros, tapi sayangnya mama tidak mengungkapkan alasan yang masuk akal.
“Aku hanya menyapan biasa kok ma, memangnya kenapa??”
“Ah.. tidak apa-apa. Lain kali kamu tidak usah menyapa siapapun dari keluarga Nyonya Meri, bahkan Tuan Boutros atau anjingnya sekalipun”
“Memangnya kenapa ma?? Aku kan hanya sekedar say hello, lagian sudah 4 tahun kita pindah ke moskow tapi kita sama sekali tidak mengenal mereka, padahal kita kan bertetangga. Keluarga mereka aneh ya ma?? Kira-kira……….” Belum ku teruskan ucapanku mama segera memotong pembicaraanku.
“Sudahlah, jangan banyak bicara, kamu tidak perlu tahu banyak hal tentang Alena gadis kecil itu dan keluarganya. Itu tidak penting, yang penting itu kamu harus kuliah yang rajin”
“Tapi ma, mereka itu….”
“Cukup Zafara, mamah membenci kamu yang terus membahas kecurigaan dan keingintahuanmu itu. Mama peringatkan sekali lagi, jangan coba-coba ikut campur dalam urusan keluarga Alena”
Aku hanya bisa diam, baru kali ini mama semarah itu. Kini kecurigaanku tidak hanya pada Alena kecil dan keluarganya, tapi juga pada mamaku sendiri. Apa yang sebenanya terjadi pada mamaku sehingga ia sampai marah seperti itu ??
Sudahlah, kuteruskan kembali memotong rumput hingga tamanku terlihat indah kembali, setelah itu aku cuci tangan dan kembali lagi ke kamar. Inilah saatnya aku berfikir dan mencoba untuk menjadi seperti apa yang aku inginkan. Detektif.. yah. Aku akan mengupas sendiri masalah ini, kecurigaanku selama ini pada Nyonya Merie, pada Bayangan laki-laki tinggi besar, pada Alena si mata merah, dan pada mamaku sendiri yang tiba-tiba marah tidak jelas saat aku menghampiri Tuang Boutros tadi.
                                                                                ***
Hari ini adalah hari minggu, seperti biasanya aku tetap mandi pagi, jogging, dan seterusnya. Tak lupa aku juga terus memantau rumah Alena, tapi sampai saat ini tidak ada gerak gerik yang mencurigakan.
Hingga sore menjelang, aku tak melihat satupun dari keluarga Alena yang keluar rumah, bagaimana cara mereka bertahan hidup yah ?? apa diam-sdiam mereka keluar rumah pada malam hari tanpa sepengetahuan siapapun ?? Ah.. sepertinya tidak mungkin.
Aku harus masuk langsung kedalam rumah itu.. yah aku harus masuk untuk memastikan sendiri apa yang sebenarnya terjadi pada rumah besar Alena. Aku akan mengatur strategi dan menunggu waktu yang tepat untuk masuk kesana tanpa ada yang menyadarinya.
                                                                              ***
Dan hari itu telah tiba, hari selasa..
Saat aku akan berangkat kuliah, aku melihat Alena bersama anjingnya Bulgigo di pekarangan rumah, aku hanya melihatnya dari kejauhan saja karena aku masih terlalu paranoid dengan mata merahnya. Aku sempat bertanya-tanya mengapa ia tak berangkat sekolah seperti biasanya ?? lalu aku melihat Eleea teman sekolah Alena yang juga tak memakai seragam sekolah seperti biasanya, yang kebetulan ia lewat depan rumahku, aku segera menghampirinya dan bertanya pada Eleea.
‘’Eleea, kenapa kamu tidak pergi sekolah ?? bukankah ini hari selasa ?? ‘’
‘’Iyah, tapi sekolah kami sengaja di liburkan’’ Jawab gadis lugu itu.
‘’Kenapah ??’’
‘’Aku tidak tahu’’ Kemudian Eleea berlalu.
Aku lihat Alena membuka pintu samping rumahnya yang selama ini jarang di buka, Alena seperti mengambil sesuatu. Mungkin itu mainannya, tapi aneh anak kecil biasanya suka bermain boneka dan semacamnya, tapi Alena memainkan sebuah….. boneka. Memang boneka, tapi seperti boneka jelangkung yang biasanya digunakan untuk memanggil arwah, dan… Oh Tuhan!! aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri bahwa boneka itu bisa bergerak dengan sendirinya. Tidak mungkin Alena atau bahkan Bulgigo yang memainkannya, boneka itu dibiarkan tergeletak dan bergerak-gerak sendiri seolah memiliki baterai. Sepertinya Alena senang sekali melihat boneka jelangkung itu menari-nari. Entah mengapa aku merasa bulu romaku berdiri. Ah.. sudahlah, itu tidak penting.
Aku mencoba kembali focus pada niatku beberapa hari yang lalu untuk memasuki rumah Alena, ini kesempatan, saat Alena sedang asyik bermain dengan Bulgigo dan mainan anehnya itu aku akan masuk kedalam rumah Alena. Meski aku agak ragu karena penciuman seekor anjing itu sangat kuat.
Diam dan mengendap-endap aku mulai memasuki rumah Alena, ini adalah saatnya aku membongkar semua rahasia besar ini. Uhh.. untungya Alena tidak melihatku memasuki rumahnya melewati pintu samping ini. Jujur dadaku berdegup sangat kencang. Kini aku telah berada dalam rumah Alena, gadis kecil bermata merah itu. Aku tidak melihat sesuatu yang aneh dalam rumah ini, semuanya normal seperti rumah-rumah mewah pada umunya yang memiliki kursi dan meja mewah. Aku terus melangkah menyusuri setiap ruangan yang ada dalam rumah ini, dan.. aku mulai menemukan suatu keanehan. Ketika aku memasuki ruangan yang aku sendiri tak tau ruangan apa itu, aku sadar bahwa aku tidak lagi didalam alamku sendiri, terkadang manusia bisa masuk kedalam alam yang berbeda dalam waktu sekejap tanpa ia sadari. Aku menyadari bahwa aku sudah keluar dari alamku sendiri karena aku mulai mencium bau anyir yang sangat menyengat, selain itu juga ada bau daging busuk yang benar-benar tidak sedap. Rasanya aku ingin muntah, tapi ku tahan. Karena aku masih ingin menyusuri seluruh lorong yang ada dalam ruangan ini.
Aku kembali memasuki sebuah ruangan aneh, mungkin itu adalah kamar Alena, karena di pintu itu tertulis Alena’s room. Aku coba masuk, dan.. tidak ada yang aneh disana, hanya sebuha kursi goyang di pojok ruangan dan.. yah, Alena terduduk disana membelakangiku, Tapi.. bukankah Alena tadi sedang bermain diluar bersama Bulgigo?? Ah masa bodoh!! aku coba mendekat dan ku beranikan untuk menyentuh pundaknya setelah ku rasa Alena tidak mendengar panggilanku ketika aku memanggilnya berulang kali tadi.
“Alena.. ini aku Zafara, Eh tapi mungkin kau mengenalku dengan nama Zara. Aku tetangga sebelah rumahmu" Ucapku memperkenalkan diri, sayangnya Alena hanya diam tidak menjawab.
"Kenapa kamu hanya diam Alena? aku hanya ingin sedikit tahu tentang kehidupanmu yang terlalu misterius menurutku" Alena tetap diam.
Tapi kemudian Alena membalikkan badannya dan membuatku kaget setengah mati !! hampir saja aku tak percaya kalau Alena ternyata hanya memiliki 1 mata yang besar di kepalanya. Dan ia menyeringai memperlihatkan gigi-giginya yang hitam mengeluarkan bau busuk. Cihh.. ini benar-benar mengerikan. Aku mundur secara perlahan karena aku merasa ini semua mulai tidak masuk akal. Tapi siapa yang kuat menahan rasa penasaran kalau sudah seperti ini ?? aku bertanya kembali, “Siapa kamu? Alena tidak seperti ini. Alena adalah gadis kecil yang cantik dan tidak kotor seperti dirimu”
Sayangnya gadis yang ku anggap Alena itu hanya tertawa kecil dan berlari keluar kamar, aku berniat untuk mengikuti gadis itu dari belakang, ku ikuti setiap langkahnya. Dan tungu, iamengambang di udara, yah.. kakinya tidak menyentuh tanah. Sepertinya aku terlambat menyadari hal ini. Oh Tuhan !! bulu kudukku seketika merinding hebat. Apa yang sebenarnya terjadi dalam rumah ini??
Ku ikuti terus langkahnya hingga ia berhenti di sebuah ruangan yang sangat besar. Sepertinya ini ruang makan, tapi buat apa ruang makan sebesar ini?? Bukankah di rumah ini hanya ada Alena dan Nyonya Meri saja??
Gadis mengerikan itu terus berjalan seolah menunjukkan padaku apa yang sebenarnya terjadi, ia duduk di sebelah kanan tepat di sebelah kursi utama. Aku masih dan memandanginya dari jarak yang lumayan dekat, di kursi utama itu aku melihat seorang wanita berambut hitam legam yang panjang, hampir sekaki panjangnya, apa itu benar Nyonya Meri?? Lalu kenapa ia hanya menunduk?? Sesaat setelah pikiranku bertanya-tanya. Wanita yang ku pikir Nyonya Meri itu mulai menggerakkan kepalanya, sepertinya ia akan menatapku, yah aku akan melihat wajah Nyonya Meri yang asli. Saat yang sangat aku tunggu-tunggu selama ini.
Tapi tunggu…. "Ya Tuhan", aku memekik tertahan melihat apa yang ada di hadapanku saat ini. Mataku membelalak kaget melihat apa yang ada didepan mataku. Apa benar ini Nyonya Meri yang selama ini di bicarakan tetangga-tetanggaku?? Dia.. dia tidak memiliki wajah, mukanya rata tanpa mata, hidung dan bibir. Ingin sekali aku lari sekencang mungkin meninggalkan rumah misteri ini, Tapi seketika tubuhku kaku, tak mampu bergerak sedikitpun. Rasanya aku ingin menangis, teriak dan meminta tolong sebelum ku ingat kembali bahwa ini adalah sebuah misi, seorang detektif tidak boleh takut dengan apapun dan bahkan harus merelakan nyawanya sendiri untuk sebuah penelitian. Fiuhh..Untung aku tidak lupa sedari tadi aku masuk ruangan, kamera kecil yang terpasang di kerah bajuku ini telah menyala. Kini aku bisa merekam semuanya dan akan menyebar luaskan berita mengenai keluarga misterius ini. Sekarang aku yakin bahwa gadis misterius itu memang benar Alena.
Alena bangkit dari kursinya dan mendekatiku, ia seakan mengajakku duduk serta dengannya di meja makan yang telah di sediakan. Sesungguhnya aku sangat takut, bulu kudukku tetap tegak berdiri, makan bersama makhluk-makhluk astral yang sangat menyeramkan bukanlah harapanku. Aku mengikuti saja arahan Alena. Tiba-tiba dari pintu sebelah kiriku muncul seorang laki-laki yang tinggi besar dan berambut putih panjang, mungkin ia adalah bayangan laki-laki yang waktu itu pernah aku lihat. Tapi ternyata wajahnya jauh lebih menyeramkan daripada bayangannya. Ia.. memang sempurna memiliki mata, hidung, dan mulut. Tapi ia memiliki kuku hitam nan panjang hingga melengkung kebelakang, ia tidak memiliki kaki, karena kakinya berbentuk  ekor yang panjang. 1 lagi dan ini sangat fenomenal, ia memiliki mata merah seperti apa yang selalu kulihat pada mata Alena.
Aku benar-benar begidik melihatnya, dadaku sekakan berhenti berdetak seketika. aku hanya bisa diam melihat keluarga mengerikan ini. Tak ada yang berbicara di antara kami, semua hanya diam termasuk Alena sendiri sebelum akhirnya laki-laki ber-ekor itu membuka sebuah nampan besar yang sedari tadi telah di hidangkan di meja kami. Perlahan tapi pasti aku melihat seekor ayam yang masih hidup disana, keplanya memang telah terpotong, tapi ayam itu masih hidup. Lalu apa yang akan di lakukan mereka dengan ayam hidup itu??
Laki-laki mengerikan itu meraih ayamnya dan mematahkan kaki dan sayapnya, seketika itu juga darah segar mengalir dari tubuh si ayam. pahanya di berikan pada Nyonya Meri dan sayapnya di berikan pada Alena, iih.. jijik sekali aku melihatnya, kali ini aku benar-benar ingin muntah. Mereka memakan daging mentah dengan darah segar yang mengucur. Ini benar-benar menjijikkan, jauh lebih menjijikkan daripada sekedar melihat batu apung warna kuning di sungai.
Tanpa kusadari, dalam hati aku berdoa selagi aku masih mampu “Ya tuhan.. jika memang mereka adalah bagian dari makhluk astral yang kau ciptakan, kembalikanlah mereka pada tempat mereka yang tenang” entah terlalu miris atau ketakutan sehingga aku berdo’a demikian.
Dan kali ini aku benar-benar muntah, parahnya lagi sepertinya mereka terganggu dengan muntahku. Alena terlihat sangat marah dan matanya memancarkan cahaya merah. Dia seperti ingin menerkamku, tapi aku sadar tak ada yang bisa menolongku saat ini, karena aku telah memasuki alam mereka. lalu apa yang harus aku lakukan??
“Oh.. Maav, aku tidak sengaja. Aku hanya merasa jijik melihat kalian memakan ayam mentah seperti itu” aku berusaha meminta maav atas kejadian barusan.
Alena hanya diam dan sedikit tenang, cahaya mata merahnya sedikit meredup. Tapi tidak dengan lelaki tinggi besar itu, dia tetap tidak terima dengan apa yang aku lakukan barusan. Dia beranjank dari kursi duduknya dan menatapku tajam. Mata merahnya kembali memancarkan cahaya seperti mata Alena, aku tidak bisa berbuat apa apa hanya mendongak pasrah sambil membaca komat kamit menunggu keajaiban. Laki-laki itu mendekat dan semakin mendekat, mungkin ini adalah saatnya aku untuk lari dari ruangan ini. Yah aku harus lari.
Plak!! Plak!! Plak!!  Aku lari sekencang mungkin hingga menimbulkan suara gaduh pada langkahku. Aku terus berlari tanpa berani menengok kebelakang. Aku masih terlalu paranoid untuk mengingat kembali wajah wajah makhluk astral itu.
Huh huh huh.. aku capek berlari, sangat capek. Hanya deru nafasku sendiri yang terdengar di ruangan ini. “kenapa aku tidak sampai sampai di pintu tempatku masuk tadi ??" tanyaku seperti berbicara pada diri sendiri. Aku melongo kekanan dan kiriku berharap menemukan pintu yang tadi aku cari, tapi sial tidak ada pintu disini. Dan wush… angin dingin menyapu tengkukku, aku dapat merasakan ada sesuatu di belakangku. Apa mungkin makhluk-makhluk itu masih terus mengejarku?? Tidak!! Jangan biarkan mereka menggangguku Tuhan, aku mohon. Perlahan aku mencoba menoleh kebelakan, berharap feelingku salah.
Dan..” Aaaaaarrrggghhh… pergi pergi pergi darisini. Jangan dekati aku” aku mulai berteriak-teriak tidak karuan, aku tersudut di pojok ruangan itu. dan tepat di depanku ada Nyonya Meri dengan muka datarnya. “Apa yang ingin kau lakukan Nyonya Meri?? Jangan sakiti aku, ku mohon” aku seperti bicara pada diriku sendiri, tanpa ku sadari Alena telah berada di samping kananku dengan senyum menyeringai. Aku terkaget kembali melihat gigi hitamnya yang mengeluarkan bau busuk, tapi kali ini aku tidak memiliki waktu untuk menutup hidungku dari bau busuk itu. aku harus segera pergi dari ruangan ini. Haruss!! Tapi bagaimana?? Aku hanya bisa menutup mataku perlahan dan mulai pasrah.
“Kau sudah puas menelusuri keluargau Zafara??” Kata Alena dengan menggeram.
"Aku minta maaf Alena. Aku minta maaf, aku tidak bermaksud mencari masalah denganmu dan keluargamu” aku memohon pada Alena agar ia mau membebaskan ku dari dunia lain ini.
“Hahaha sayangnya siapapun yang masuk kesini tidak akan pernah bisa keluar Zafara, kau akan mati. Hahaha. Aku dan keluargaku akan memakanmu hidup hidup” Alena semakin membuatku ketakutan. Tiba-tiba kepalaku sangat pening, pening sekali sehingga membuat pandanganku menjadi kabur. Dan….. Gelap.
                                                                                    ***
“Zara, bangun sayang. Bangun nak” samar sama ku dengan suara mama begitu dekat. Lalu aku membuka mata dan melihat mama serta tetangga-tetanggaku sedang mengerubungiku. Mama menangis, ada apa ini?? mengapa mama menangis??
“Ada apa ma??” tanyaku pelan. Aku merasa kehabisan tenaga sehingga tak mampu berbicara.
"Kamu pingsan selama 3 hari sayang" mama masih terus terisak oleh tangisnya sendiri.
“Pingsan 3 hari??” aku kembali mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi pada diriku.
Dan.. yah aku ingat sekarang, waktu di rumah Alena tiba-tiba pandanganku menjadi kabur dan gelap. Lalu.. aku tidak tau apa yang terjadi padaku setelahnya. Tapi samar-samar aku masih bisa mendengar ada yang berbicara “Dia bukan santapan kita, kembalikan dia pada tempat asalnya” setelah itu aku tak bisa mendengar apa apa lagi. Dan ternyata aku pingsan selama itu??
Mama menyodorkanku segelas air putih untuk memulihkan tenagaku, aku segera meneguknya sampai habis seperti tidak minum beberapa hari saja. Eh tunggu, aku kan memang tidak minum selama 3 hari.
“Kamu hilang selama 4 hari Zara” celetuk tetanggaku yang lagi lagi membuatku kaget.
“4 hari??”
“Iyah, dan kau di temukan pingsan di dekat rumah Nyonya Meri” kata tetanggaku yang lain.
Aku masih berfikir apa yang terjadi saat aku pingsan waktu itu, tapi tiba-tiba mama menanyakan hal yang membuatku tak mampu untuk menjawabnya.
“Apa yang kamu lakukan di rumah Nyonya Meri Zafara??”
Aku hanya diam menatap mata mama, berusaha menjelaskan hal yang tak bisa di jelaskan dengan nalar manusia. Tapi.. bukannya aku punya bukti kamera kecil yang aku taruh di kera bajuku??
“Ma, dimana baju yang aku pakai saat aku pingsan di sebelah Nyonya Meri kemarin??”
“Memangnya ada apa dengan baju itu??” mama bertanya menyelidik.
“Di situlah bukti tentang misteri rumah Alena yang sebenarnya. Aku memang berencana memasukinya kemarin, ma. Maafkan aku, tapi aku benar-benar tidak bisa membendung rasa penasaranku”
Mama segera bangkit dan mengambil baju yang aku maksudkan.
“Ini bajumu”
“Belum mama cuci?”
"Belum. Ada apa ? "
Aku segera melepaskan kamera yang masih terpasang di kerah bajuku, mengambil memorynya  dan menyodorkannya pada mama. Mama segera meraih laptopku dan memutar hasil rekaman yang ku maksudkan tadi. Tetangga-tetanggaku juga ikut menyaksikannya, aku melihat jelas ekspresi muka mereka setelah melihat rekaman video yang aku berikan tadi. Wajah mereka pucat pasi, dan sebagian merasa ketakutan. Akupun juga masih merasa demikian, paranoid, takut jika mengingat kembali kejadian waktu itu.
                                                                                    ***
3 hari kemudian setelah rekaman video itu di laporkan kepada seorang pastur gereja, rumah Nyonya Meri di bongkar. Ini atas pengamatan tuan pastur yang katanya apa yang aku alami kala itu memang benar-benar nyata. Aku dibawa ke dunia para iblis yang hanya ingin merusak moral manusia.
Dalam pembongkaran rumah mewah itu, telah di temukan 3 tulang-tulang manusia yang sudah rapuh. Sepertinya tulang itu sudah lama ada didalam sana, setelah dilakukan otopsi oleh pihak rumah sakit moskow baru kita bisa tau kalau sebenarnya itu adalah tulang Nyonya Meri, Tuan Boutros, dan Babysitternya Alena, yaitu Diana.

Setelah aku nalar beberapa saat sekaligus mendapatkan bukti dari pastur, sekarang aku mengerti. Benar kata tetangga-tetanggaku jika Nyonya Meri tidak pernah keluar rumah sejak kematian orang tuanya 25 tahun yang lalu. Berarti ia telah meninggal, dugaanku karena tidak mampu bertahan hidup. Dan laki laki tinggi besar itu adalah iblis yang menikahi arwah Nyonya Meri hingga lahirlah Alena. Tunggu.. berarti Alena juga makhluk astral?? Dan selama ini ia bergaul dengan manusia?? Oh Shit. Pintar sekali setan-setan itu. Dan tuan Boutros.. berarti tuan Boutros yang aku temui di luar rumah waktu itu adalah…. Arwahnya?? Huaaaa.. !!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar