Ini bukan pertama kalinya aku menulis
cerita horor, setidaknya ini adalah kedua kalinya aku menuliskan cerita horor.
Yah.. mungkin tidak seperti cerita-cerita horor pada umunya, lebih tepatnya
seperti cerita konyol. Tapi aku belajar menulis cerita horor modern ini dari
sebuah halaman facebook yang sangat popular sebenarnya. Tapi aku tidak sedang
membahas halaman itu.
Baiklah, hari ini aku akan menceritkan
cerita horor yang tidak murni horror, tapi setidaknya ini akan membekas. Cerita ini aku beri judul Red Eye. Semua orang
pasti sudah tau arti nama itu. Yah.. mata merah.
Let’s Ceck it out !!
= = = = =
Gadis kecil itu bernama Alena, jika di lihat sekilas
gadis itu memang tidak berbeda sama sekali dengan gadis-gadis kecil pada
umumnya yang masih duduk di bangku SD. Yang
setiap pagi harus berangkat sekolah dan pulang siang, memakan roti selai kacang
pada musing dingin dan bermain dengan anjing kesayangannya setiap ia pulang
sekolah. Tapi menurutku Alena berbeda, sangat berbeda. Dia memiliki.. mata merah. Mungkin
memang terlihat aneh, atau bahkan hanya aku sendirilah yang menyadari mata
merahnya itu. Entah karena tidak ada yang memperhatikannya atau memang mata
merahnya itu hanya di tunjukkan padaku ?? entahlah. Yang pasti terkadang
aku merasa sedikit merinding ketika menatap matanya, oleh karena itu aku enggan
menatap matanya terlalu lama. Mungkin juga terlihat sangat konyol saat seorang
mahasiswi seperti aku harus takut dengan sorot mata anak SD. Tapi.. itulah yang aku rasakan.
Dan
malam ini, Alena benar-benar berhasil membuatku tidak bisa tidur. Ini karena
kejadian tadi sore saat tiba-tiba ia bermain dengan anjingnya di pekarangan
rumah. Tidak biasanya Alena bermain dengan anjingnya sore hari, ia selalu
bermain dengan Bulgigo anjing kesayangannya itu siang hari ketika ia pulang
sekolah. Sedikit cerita tentang Bulgigo, aku juga sebenarnya agak paranoid jika
menceritakan tentang bulgigo. Mungkin karena aku di besarkan dari keluarga yang
tidak begitu menyukai anjing pada umumnya, Bulgigo adalah anjing berwarna hitam
legam yang ukuran tubuhnya bisa di bilang sangat besar di banding anjing-anjing
tetanggaku yang lain, bahkan ketika Alena membungkuk di sebelah anjingnya ia
terlihat lebih kecil daripada bulgigo. Bulgigo juga memiliki taring yang
panjang dan gigi agak kotor, ekor yang panjang mendongak keatas, dan terkadang
aumannya seperti serigala. Aku pernah berfikir, apa gadis kecil seperti Alena
itu tidak takut dengan sosok anjing yang menyeramkan seperti bulgigo?? Hanya
membayangkan saja terkadang aku ngeri.
Kembali
lagi ke topik semula, yah.. tadi siang saat Alena bermain dengan bulgigo. Tepat
sekali bersamaan dengan aku pulang kuliah, dengan mengendarai sedan
kesayanganku, sebenarnya aku tidak berminat sama sekali untuk melihat Alena dan
anjingnya kerena aku terlalu capek dan ingin segera beristirahat, tapi aku
merasa ada yang memperhatikanku sejak tadi. Tentu saja aku langsung
memperhatikan sekelilingku, tidak ada siapa-siapa disana kecuali….. Yah, Alena
dan anjingnya Bulgigo. Ingin sekali aku menghindari tatapan mata merahnya yang
aneh, tapi kali ini aku seperti terbiyus. Aku tidak bisa mengalihkan
pandanganku hingga tubuhku gemetar hebat, bulu kudukku berdiri, aku merasa sore
ini udara sedang tidak bersahabat hingga menimbulkan aura mistis di kulitku.
Tatapan itu menurutku cukup lama, 5 menit. Sebelum akhirnya teriakan mamaku dari
dalam rumah membuyarkan biyusan mata merah Alena sore itu.
“Iyah
ma, aku pulang” Aku segera lari menghampiri mamaku dengan ribuan pertanyaan di
otakku, apa yang barusan gadis kecil itu lakukan padaku?? Hipnotis?? Oh
mungkinkah??
“Kamu
lapar sayang? Mama sudah membuatkan biskuit teddy kesukaanmu” Mama selalu
membuatkan biskuit teddy untukku setiap hari jumat menjelang liburan hari sabtu
dan minggu. Ayolah ma, anakmu ini sudah kuliah, ia sudah dewasa, dan sudah
tidak suka lagi dengan biscuit teddy. Tapi, ah.. yasudahlah, jika ini membuat
mama bahagia, akan aku makan.
***
Dan
itulah sebab mengapa malam ini aku tidak bisa tidur. Terbayang mata merah
Alena. Aku semakin penasaran dengan kehidupan Alena yang sebenarnya, karena diam-diam aku memperhitikan gerak-gerik
keluarganya, atau memang hanya aku saja yang sebenarnya terlalu tertarik untuk
mengetahui misteri keluarga Alena ??
Aku
tidak pernah melihat Nyonya Meri sebelumnya, ibu Alena. Meski hanya untuk
sekedar keluar dari rumah, ataupun tegur sapa. Dan yang aku tau dari omong-omong
beberapa tetanggaku, Alena itu terlahir tanpa ayah, yah mungkin saja memang
ibunya dulu bermain dengan beberapa laki-laki bajingan dan akhirnya lahirlah
Alena tanpa ayah.
Tapi
tidak, opiniku salah, Nyonya Meri adalah wanita yang tidak pernah keluar rumah,
menghabiskan seluruh masa remajanya di dalam rumah semenjak kematian kedua
orang tuanya 25 th yang lalu, Saat itu
Nyonya Meri berusia 15 tahun. Dan saat berusia 28 tahun tiba tiba Nyonya Meri
melahirkan seorang bayi perempuan yaitu Alena. Padahal, ia tidak pernah keluar
rumah selama 25 tahun belakangan itu, ada yang mengira bahwa itu adalah anak
dari penjaga rumah Nyonya Meri sendiri, tapi kalau diperhatikan Alena tidak ada
mirip-miripnya dengan Tuan Boutros penjaga rumah Nyonya Meri, lalu bagaimana ia
menghidupi keluarganya selama ini, jika memang benar Nyonya Meri tidak pernah
keluar rumah ??
Ah..
aku sendiri masih penasaran dan berminat ingin membuka rahasia besar keluarga
Alena meski terkadang mamaku selalu mengalihkan ketika aku bertanya tentang
Nyonya Meri dan keluarganya. Aku tau semua cerita itu dari tetangga sebelah
barat rumahku, karena sebenarnya aku bukan penduduk asli Moskow, aku pindak
dari Irlandia beberapa tahun yang lalu. Dan perlu kalian ketahui, aku belum
pernah bertemu dengan wajah asli Nyonya Meri. Aneh bukan ?? Sedangkan aku
sudah pindah kesini sejak 4 tahun yang lalu.
Malam
ini aku tetap mencoba untuk menutup mataku, meski besok adalah hari libur, tapi
aku tetap memiliki jadwal padat sejak pagi. Membantu mama di rumah, hingga
mengerjakan beberapa tugas kuliah yang masih menumpuk.
Dan
sekitar 2 jam kemudian aku baru terlelap dalam tidur, sayangnya 1 jam kemudian
mamaku harus mengetuk-ngetuk pintu kamarku karena jam sudah menunjukkan pukul 5
pagi. Ah.. Ssiall, aku hanya tidur 1 jam semalaman. Aku memang sengaja membuat
perjanjian dengan mamaku hari ini untuk bangun pagi, berolahaga dan
membersihkan pekarangan rumah yang sudah mulai kotor. Ini kesempatanku untuk
memperhatikan rumah Alena sejak pagi, siapa tahu aku menemukan beberapa
petunjuk.
***
Ketika
aku berolahraga dan melewati depan rumah Alena, aku melihat sosok bayangan
seorang laki-laki yang tinggi besar dan sepertinya berambut panjang, aku
menyebutnya laki-laki karena bayangan tubuh itu tinggi besar. Aku penasaran
siapa bayangan itu ?? tidak mungkin jika ku jawab itu Tuan Boutros,
sedangkan yang aku tau Tuan Boutros badannya sudah agak membungkuk karena di
makan usia. Aku coba bertanya keanehan itu pada mamaku tapi mama selalu mengatakan
tidak ada siapa-siapa di rumah itu kecuali Nyonya Meri, dan anaknya Alena.
Aku
sedikit percaya meski masih terasa ganjil, karena bagaimanapun juga mamaku
pernah bertemu dengan Nyonya Meri meski cuma sekali selama 4 tahun kami disini,
dari cerita mamaku sih Nyonya Meri itu adalah wanita yang sangat cantik,
kulitnya putih mulus dan rambutnya hitam panjang, hanya saja.. wajahnya
terlihat agak pucat dan seperti kelelahan.
Ada apa dengan Nyonya Meri ??
Ada apa dengan Nyonya Meri ??
Jam
sudah menunjukkan pukul 7 pagi, setelah berolahraga dan beakfast aku segera
mandi dan ganti baju untuk membersihkan pekarangan rumah seperti perjanjianku
kemaren dengan mama.
Di
tengah-tengah kesibukanku membersihkan halaman rumah, aku melihat Tuan Boutros
keluar dari gerbang rumah Alena. Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini,
tanpa seizin mama aku langsung lari menghampiri Tuan Boutros.
“Selamat
pagi Tuan Boutros, senang sekali bisa bertemu dengan anda” aku coba mengajaknya
bicara dengan senyum merekah di bibirku, sayangnya Tuan Boutros terlihat sangat
dingin.
“Selamat
pagi Zafara, sebelumnya aku tidak terlalu mengenalmu kecuali hanya sebuah nama”
kemudian ia berlalu begitu saja. Ah.. sial!! Mengapa orang-orang yang ada dalam
keluarga ini sangat aneh, tidak Nyonya Meri, Alena, Tuan Boutros atau bahkan
anjingnya Bulgigo.
Dari
halaman rumah, terdengan suara mama memanggilku, memecahkan lamunanku yang
mulai curiga kembali dengan kehidupan Alena yang sebenarnya.
“Iya ma, Zara kembali” Aku segera berlari kembali ke
rumah.
“Apa
yang kamu lakukan barusan dengan Tuan Boutros??” Mama sepertinya tidak suka aku
berbicara dengan Tuan Boutros, tapi sayangnya mama tidak mengungkapkan alasan
yang masuk akal.
“Aku
hanya menyapan biasa kok ma, memangnya kenapa??”
“Ah..
tidak apa-apa. Lain kali kamu tidak usah menyapa siapapun dari keluarga Nyonya
Meri, bahkan Tuan Boutros atau anjingnya sekalipun”
“Memangnya
kenapa ma?? Aku kan hanya sekedar say hello, lagian sudah 4 tahun kita pindah
ke moskow tapi kita sama sekali tidak mengenal mereka, padahal kita kan bertetangga.
Keluarga mereka aneh ya ma?? Kira-kira……….” Belum ku teruskan ucapanku mama
segera memotong pembicaraanku.
“Sudahlah,
jangan banyak bicara, kamu tidak perlu tahu banyak hal tentang Alena gadis
kecil itu dan keluarganya. Itu tidak penting, yang penting itu kamu harus
kuliah yang rajin”
“Tapi
ma, mereka itu….”
“Cukup
Zafara, mamah membenci kamu yang terus membahas kecurigaan dan keingintahuanmu
itu. Mama peringatkan sekali lagi, jangan coba-coba ikut campur dalam urusan
keluarga Alena”
Aku hanya bisa diam, baru kali ini mama semarah itu. Kini
kecurigaanku tidak hanya pada Alena kecil dan keluarganya, tapi juga pada mamaku
sendiri. Apa yang sebenanya terjadi pada mamaku sehingga ia sampai marah
seperti itu ??
Sudahlah, kuteruskan kembali memotong rumput hingga
tamanku terlihat indah kembali, setelah itu aku cuci tangan dan kembali lagi ke
kamar. Inilah saatnya aku berfikir dan mencoba untuk menjadi seperti apa yang
aku inginkan. Detektif.. yah. Aku akan mengupas sendiri masalah ini,
kecurigaanku selama ini pada Nyonya Merie, pada Bayangan laki-laki tinggi
besar, pada Alena si mata merah, dan pada mamaku sendiri yang tiba-tiba marah
tidak jelas saat aku menghampiri Tuang Boutros tadi.
***
Hari ini adalah hari minggu, seperti biasanya aku tetap
mandi pagi, jogging, dan seterusnya. Tak lupa aku juga terus memantau rumah
Alena, tapi sampai saat ini tidak ada gerak gerik yang mencurigakan.
Hingga sore menjelang, aku tak melihat satupun dari
keluarga Alena yang keluar rumah, bagaimana cara mereka bertahan hidup
yah ?? apa diam-sdiam mereka keluar rumah pada malam hari tanpa
sepengetahuan siapapun ?? Ah.. sepertinya
tidak mungkin.
Aku
harus masuk langsung kedalam rumah itu.. yah aku harus masuk untuk memastikan
sendiri apa yang sebenarnya terjadi pada rumah besar Alena. Aku akan mengatur
strategi dan menunggu waktu yang tepat untuk masuk kesana tanpa ada yang
menyadarinya.
***
Dan hari itu telah tiba, hari selasa..
Saat aku akan berangkat kuliah, aku melihat Alena bersama
anjingnya Bulgigo di pekarangan rumah, aku hanya melihatnya dari kejauhan saja
karena aku masih terlalu paranoid dengan mata merahnya. Aku sempat
bertanya-tanya mengapa ia tak berangkat sekolah seperti biasanya ?? lalu
aku melihat Eleea teman sekolah Alena yang juga tak memakai seragam sekolah
seperti biasanya, yang kebetulan ia lewat depan rumahku, aku segera
menghampirinya dan bertanya pada Eleea.
‘’Eleea, kenapa kamu tidak pergi
sekolah ?? bukankah ini hari selasa ?? ‘’
‘’Iyah, tapi sekolah kami sengaja di liburkan’’ Jawab
gadis lugu itu.
‘’Kenapah ??’’
‘’Aku
tidak tahu’’ Kemudian Eleea berlalu.
Aku
lihat Alena membuka pintu samping rumahnya yang selama ini jarang di buka,
Alena seperti mengambil sesuatu. Mungkin itu mainannya, tapi aneh anak kecil
biasanya suka bermain boneka dan semacamnya, tapi Alena memainkan sebuah….. boneka.
Memang boneka, tapi seperti boneka jelangkung yang biasanya digunakan untuk
memanggil arwah, dan… Oh Tuhan!! aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri
bahwa boneka itu bisa bergerak dengan sendirinya. Tidak mungkin Alena atau
bahkan Bulgigo yang memainkannya, boneka itu dibiarkan tergeletak dan
bergerak-gerak sendiri seolah memiliki baterai. Sepertinya Alena senang sekali
melihat boneka jelangkung itu menari-nari. Entah mengapa aku merasa bulu romaku
berdiri. Ah.. sudahlah, itu tidak penting.
Aku
mencoba kembali focus pada niatku beberapa hari yang lalu untuk memasuki rumah
Alena, ini kesempatan, saat Alena sedang asyik bermain dengan Bulgigo dan
mainan anehnya itu aku akan masuk kedalam rumah Alena. Meski aku agak ragu
karena penciuman seekor anjing itu sangat kuat.
Diam
dan mengendap-endap aku mulai memasuki rumah Alena, ini adalah saatnya aku
membongkar semua rahasia besar ini. Uhh.. untungya Alena tidak melihatku
memasuki rumahnya melewati pintu samping ini. Jujur dadaku berdegup sangat
kencang. Kini aku telah berada dalam rumah Alena, gadis kecil bermata merah
itu. Aku tidak melihat sesuatu yang aneh dalam rumah ini, semuanya normal
seperti rumah-rumah mewah pada umunya yang memiliki kursi dan meja mewah. Aku
terus melangkah menyusuri setiap ruangan yang ada dalam rumah ini, dan.. aku
mulai menemukan suatu keanehan. Ketika aku memasuki ruangan yang aku sendiri tak tau
ruangan apa itu, aku sadar bahwa aku tidak lagi didalam alamku sendiri,
terkadang manusia bisa masuk kedalam alam yang berbeda dalam waktu sekejap
tanpa ia sadari. Aku menyadari bahwa aku sudah keluar dari
alamku sendiri karena aku mulai mencium bau anyir yang sangat menyengat, selain
itu juga ada bau daging busuk yang benar-benar tidak sedap. Rasanya aku ingin
muntah, tapi ku tahan. Karena aku masih ingin menyusuri seluruh lorong yang ada
dalam ruangan ini.
Aku kembali memasuki sebuah ruangan aneh,
mungkin itu adalah kamar Alena, karena di pintu itu tertulis Alena’s room. Aku
coba masuk, dan.. tidak ada yang aneh disana, hanya sebuha kursi goyang di
pojok ruangan dan.. yah, Alena terduduk disana membelakangiku, Tapi.. bukankah
Alena tadi sedang bermain diluar bersama Bulgigo?? Ah masa bodoh!! aku coba
mendekat dan ku beranikan untuk menyentuh pundaknya setelah ku rasa Alena tidak
mendengar panggilanku ketika aku memanggilnya berulang kali tadi.
“Alena.. ini aku Zafara, Eh tapi mungkin kau mengenalku
dengan nama Zara. Aku tetangga sebelah rumahmu" Ucapku memperkenalkan
diri, sayangnya Alena hanya diam tidak menjawab.
"Kenapa kamu hanya diam Alena? aku hanya ingin
sedikit tahu tentang kehidupanmu yang terlalu misterius menurutku" Alena
tetap diam.
Tapi kemudian Alena membalikkan badannya dan membuatku kaget
setengah mati !! hampir saja aku tak percaya kalau Alena ternyata hanya
memiliki 1 mata yang besar di kepalanya. Dan ia menyeringai memperlihatkan
gigi-giginya yang hitam mengeluarkan bau busuk. Cihh..
ini benar-benar mengerikan. Aku mundur secara perlahan karena aku merasa ini semua
mulai tidak masuk akal. Tapi siapa yang kuat menahan rasa penasaran kalau sudah
seperti ini ?? aku bertanya kembali, “Siapa kamu? Alena tidak seperti ini. Alena adalah gadis kecil yang cantik dan
tidak kotor seperti dirimu”
Sayangnya gadis yang ku anggap Alena itu hanya tertawa
kecil dan berlari keluar kamar, aku berniat untuk mengikuti gadis itu dari
belakang, ku ikuti setiap langkahnya. Dan tungu, iamengambang di udara, yah..
kakinya tidak menyentuh tanah. Sepertinya aku terlambat menyadari hal ini. Oh
Tuhan !! bulu kudukku seketika merinding hebat. Apa yang sebenarnya
terjadi dalam rumah ini??
Ku ikuti terus langkahnya hingga ia berhenti di sebuah ruangan yang sangat besar. Sepertinya ini ruang makan, tapi buat
apa ruang makan sebesar ini?? Bukankah di rumah ini hanya ada Alena dan Nyonya
Meri saja??
Gadis
mengerikan itu terus berjalan seolah menunjukkan padaku apa yang sebenarnya
terjadi, ia duduk di sebelah kanan tepat di sebelah kursi utama. Aku masih dan memandanginya
dari jarak yang lumayan dekat, di kursi utama itu aku melihat seorang wanita
berambut hitam legam yang panjang, hampir sekaki panjangnya, apa itu benar
Nyonya Meri?? Lalu kenapa ia hanya menunduk?? Sesaat setelah pikiranku
bertanya-tanya. Wanita yang ku pikir Nyonya Meri itu mulai menggerakkan
kepalanya, sepertinya ia akan menatapku, yah aku akan melihat wajah Nyonya Meri
yang asli. Saat yang sangat aku tunggu-tunggu selama ini.
Tapi tunggu…. "Ya Tuhan", aku memekik
tertahan melihat apa yang ada di hadapanku saat ini. Mataku membelalak kaget
melihat apa yang ada didepan mataku. Apa benar ini Nyonya Meri yang selama ini
di bicarakan tetangga-tetanggaku?? Dia.. dia tidak memiliki wajah, mukanya rata
tanpa mata, hidung dan bibir. Ingin sekali aku lari sekencang mungkin
meninggalkan rumah misteri ini, Tapi seketika tubuhku kaku, tak mampu bergerak
sedikitpun. Rasanya aku ingin menangis, teriak dan meminta tolong sebelum ku
ingat kembali bahwa ini adalah sebuah misi, seorang detektif tidak boleh takut
dengan apapun dan bahkan harus merelakan nyawanya sendiri untuk sebuah
penelitian. Fiuhh..Untung aku tidak lupa sedari tadi aku masuk ruangan, kamera
kecil yang terpasang di kerah bajuku ini telah menyala. Kini aku bisa merekam
semuanya dan akan menyebar luaskan berita mengenai keluarga misterius ini.
Sekarang aku yakin bahwa gadis misterius itu memang benar Alena.
Alena bangkit dari kursinya dan mendekatiku, ia seakan
mengajakku duduk serta dengannya di meja makan yang telah di sediakan. Sesungguhnya aku sangat takut, bulu kudukku tetap tegak berdiri,
makan bersama makhluk-makhluk astral yang sangat menyeramkan bukanlah harapanku.
Aku mengikuti saja arahan Alena. Tiba-tiba dari pintu sebelah kiriku muncul
seorang laki-laki yang tinggi besar dan berambut putih panjang, mungkin ia
adalah bayangan laki-laki yang waktu itu pernah aku lihat. Tapi ternyata
wajahnya jauh lebih menyeramkan daripada bayangannya. Ia.. memang sempurna
memiliki mata, hidung, dan mulut. Tapi ia memiliki kuku hitam nan panjang
hingga melengkung kebelakang, ia tidak memiliki kaki, karena kakinya berbentuk ekor yang panjang. 1 lagi dan ini sangat
fenomenal, ia memiliki mata merah seperti apa yang selalu kulihat pada mata
Alena.
Aku
benar-benar begidik melihatnya, dadaku sekakan berhenti berdetak seketika. aku
hanya bisa diam melihat keluarga mengerikan ini. Tak ada yang berbicara di
antara kami, semua hanya diam termasuk Alena sendiri sebelum akhirnya laki-laki
ber-ekor itu membuka sebuah nampan besar yang sedari tadi telah di hidangkan di
meja kami. Perlahan tapi pasti aku melihat seekor ayam yang masih hidup disana,
keplanya memang telah terpotong, tapi ayam itu masih hidup. Lalu apa yang akan di
lakukan mereka dengan ayam hidup itu??
Laki-laki
mengerikan itu meraih ayamnya dan mematahkan kaki dan sayapnya, seketika itu
juga darah segar mengalir dari tubuh si ayam. pahanya di berikan pada Nyonya
Meri dan sayapnya di berikan pada Alena, iih.. jijik sekali aku melihatnya,
kali ini aku benar-benar ingin muntah. Mereka memakan daging mentah dengan
darah segar yang mengucur. Ini benar-benar menjijikkan, jauh lebih menjijikkan
daripada sekedar melihat batu apung warna kuning di sungai.
Tanpa
kusadari, dalam hati aku berdoa selagi aku masih mampu “Ya tuhan.. jika memang
mereka adalah bagian dari makhluk astral yang kau ciptakan, kembalikanlah
mereka pada tempat mereka yang tenang” entah terlalu miris atau ketakutan
sehingga aku berdo’a demikian.
Dan
kali ini aku benar-benar muntah, parahnya lagi sepertinya mereka terganggu
dengan muntahku. Alena terlihat sangat marah dan matanya memancarkan cahaya
merah. Dia seperti ingin menerkamku, tapi aku sadar tak ada yang bisa
menolongku saat ini, karena aku telah memasuki alam mereka. lalu apa yang harus
aku lakukan??
“Oh..
Maav, aku tidak sengaja. Aku hanya merasa jijik melihat kalian memakan ayam
mentah seperti itu” aku berusaha meminta maav atas kejadian barusan.
Alena
hanya diam dan sedikit tenang, cahaya mata merahnya sedikit meredup. Tapi tidak
dengan lelaki tinggi besar itu, dia tetap tidak terima dengan apa yang aku
lakukan barusan. Dia beranjank dari kursi duduknya dan menatapku tajam. Mata merahnya
kembali memancarkan cahaya seperti mata Alena, aku tidak bisa berbuat apa apa
hanya mendongak pasrah sambil membaca komat kamit menunggu keajaiban. Laki-laki
itu mendekat dan semakin mendekat, mungkin ini adalah saatnya aku untuk lari
dari ruangan ini. Yah aku harus lari.
Plak!!
Plak!! Plak!! Aku lari sekencang mungkin
hingga menimbulkan suara gaduh pada langkahku. Aku terus berlari tanpa berani menengok
kebelakang. Aku masih terlalu paranoid untuk mengingat kembali wajah wajah
makhluk astral itu.
Huh
huh huh.. aku capek berlari, sangat capek. Hanya deru nafasku sendiri yang terdengar di
ruangan ini. “kenapa aku tidak sampai sampai di pintu tempatku masuk tadi ??" tanyaku seperti berbicara pada diri sendiri. Aku melongo kekanan dan kiriku
berharap menemukan pintu yang tadi aku cari, tapi sial tidak ada pintu disini. Dan wush… angin dingin menyapu tengkukku, aku dapat merasakan ada
sesuatu di belakangku. Apa mungkin makhluk-makhluk itu masih terus mengejarku??
Tidak!! Jangan biarkan mereka menggangguku Tuhan, aku mohon. Perlahan aku
mencoba menoleh kebelakan, berharap feelingku salah.
Dan..”
Aaaaaarrrggghhh… pergi pergi pergi darisini. Jangan dekati aku” aku mulai
berteriak-teriak tidak karuan, aku tersudut di pojok ruangan itu. dan tepat di
depanku ada Nyonya Meri dengan muka datarnya. “Apa yang ingin kau lakukan
Nyonya Meri?? Jangan sakiti aku, ku mohon” aku seperti bicara pada diriku
sendiri, tanpa ku sadari Alena telah berada di samping kananku dengan senyum
menyeringai. Aku terkaget kembali melihat gigi hitamnya yang mengeluarkan bau
busuk, tapi kali ini aku tidak memiliki waktu untuk menutup hidungku dari bau
busuk itu. aku harus segera pergi dari ruangan ini. Haruss!! Tapi bagaimana?? Aku
hanya bisa menutup mataku perlahan dan mulai pasrah.
“Kau sudah puas menelusuri keluargau Zafara??” Kata Alena dengan menggeram.
"Aku
minta maaf Alena. Aku minta maaf, aku tidak bermaksud mencari masalah denganmu
dan keluargamu” aku memohon pada Alena agar ia mau membebaskan ku dari dunia
lain ini.
“Hahaha
sayangnya siapapun yang masuk kesini tidak akan pernah bisa keluar Zafara, kau
akan mati. Hahaha. Aku dan keluargaku akan memakanmu hidup hidup” Alena semakin
membuatku ketakutan. Tiba-tiba kepalaku sangat pening, pening sekali sehingga
membuat pandanganku menjadi kabur. Dan….. Gelap.
***
“Zara,
bangun sayang. Bangun nak” samar sama ku dengan suara mama begitu dekat. Lalu aku
membuka mata dan melihat mama serta tetangga-tetanggaku sedang mengerubungiku. Mama menangis, ada apa ini?? mengapa mama
menangis??
“Ada apa ma??” tanyaku pelan. Aku merasa kehabisan tenaga
sehingga tak mampu berbicara.
"Kamu
pingsan selama 3 hari sayang" mama masih terus terisak oleh tangisnya
sendiri.
“Pingsan
3 hari??” aku kembali mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi pada diriku.
Dan..
yah aku ingat sekarang, waktu di rumah Alena tiba-tiba pandanganku menjadi
kabur dan gelap. Lalu.. aku tidak tau apa yang terjadi padaku setelahnya. Tapi samar-samar
aku masih bisa mendengar ada yang berbicara “Dia bukan santapan kita,
kembalikan dia pada tempat asalnya” setelah itu aku tak bisa mendengar apa apa
lagi. Dan ternyata aku pingsan selama itu??
Mama
menyodorkanku segelas air putih untuk memulihkan tenagaku, aku segera
meneguknya sampai habis seperti tidak minum beberapa hari saja. Eh tunggu, aku
kan memang tidak minum selama 3 hari.
“Kamu
hilang selama 4 hari Zara” celetuk tetanggaku yang lagi lagi membuatku kaget.
“4
hari??”
“Iyah,
dan kau di temukan pingsan di dekat rumah Nyonya Meri” kata tetanggaku yang
lain.
Aku
masih berfikir apa yang terjadi saat aku pingsan waktu itu, tapi tiba-tiba mama
menanyakan hal yang membuatku tak mampu untuk menjawabnya.
“Apa
yang kamu lakukan di rumah Nyonya Meri Zafara??”
Aku
hanya diam menatap mata mama, berusaha menjelaskan hal yang tak bisa di
jelaskan dengan nalar manusia. Tapi.. bukannya aku punya bukti kamera kecil yang
aku taruh di kera bajuku??
“Ma,
dimana baju yang aku pakai saat aku pingsan di sebelah Nyonya Meri kemarin??”
“Memangnya
ada apa dengan baju itu??” mama bertanya menyelidik.
“Di
situlah bukti tentang misteri rumah Alena yang sebenarnya. Aku memang berencana
memasukinya kemarin, ma. Maafkan aku, tapi aku benar-benar tidak bisa
membendung rasa penasaranku”
Mama
segera bangkit dan mengambil baju yang aku maksudkan.
“Ini bajumu”
“Belum mama cuci?”
"Belum. Ada apa ? "
Aku segera melepaskan kamera yang masih terpasang di
kerah bajuku, mengambil memorynya dan
menyodorkannya pada mama. Mama segera meraih laptopku dan memutar hasil rekaman
yang ku maksudkan tadi. Tetangga-tetanggaku juga ikut menyaksikannya, aku
melihat jelas ekspresi muka mereka setelah melihat rekaman video yang aku
berikan tadi. Wajah mereka pucat pasi, dan sebagian merasa ketakutan. Akupun
juga masih merasa demikian, paranoid, takut jika mengingat kembali kejadian
waktu itu.
***
3 hari kemudian setelah rekaman video itu di laporkan
kepada seorang pastur gereja, rumah Nyonya Meri di bongkar. Ini atas pengamatan
tuan pastur yang katanya apa yang aku alami kala itu memang benar-benar nyata. Aku dibawa ke dunia para iblis yang hanya ingin merusak moral
manusia.
Dalam
pembongkaran rumah mewah itu, telah di temukan 3 tulang-tulang manusia yang
sudah rapuh. Sepertinya tulang itu sudah lama ada didalam sana, setelah
dilakukan otopsi oleh pihak rumah sakit moskow baru kita bisa tau kalau
sebenarnya itu adalah tulang Nyonya Meri, Tuan Boutros, dan Babysitternya
Alena, yaitu Diana.
Setelah
aku nalar beberapa saat sekaligus mendapatkan bukti dari pastur, sekarang aku
mengerti. Benar kata tetangga-tetanggaku jika Nyonya Meri tidak pernah keluar
rumah sejak kematian orang tuanya 25 tahun yang lalu. Berarti ia telah
meninggal, dugaanku karena tidak mampu bertahan hidup. Dan laki laki tinggi
besar itu adalah iblis yang menikahi arwah Nyonya Meri hingga lahirlah Alena.
Tunggu.. berarti Alena juga makhluk astral?? Dan selama ini ia bergaul dengan
manusia?? Oh Shit. Pintar sekali setan-setan itu. Dan tuan Boutros.. berarti
tuan Boutros yang aku temui di luar rumah waktu itu adalah…. Arwahnya??
Huaaaa.. !!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar