Ini adalah short story yang pernah saya pakek buat sayembara nulis "sakitnya tuh disini" tahun 2014 silam. Tapi ternyata setelah saya kirim. Penerbitnya seperti nge-php saja. tidak ada pemenang dan kami hanya di iming2i tulisan kami akan di terbitkan jika tulisan kami memang bagus Oh shitt. Tapi yasudahlah. Lets ceck it out :
Brakk!!..aku sengaja membuka pintu itu dengan kasar. Karena aku tak dapat lagi membendung kemarahanku sekaligus kesedihan yang telah terjadi padaku hari ini.Sontak saja itu membuat teman sekamarku kaget, karena kebetulan saat ini aku tinggal dalam sebuah pesantren.
Brakk!!..aku sengaja membuka pintu itu dengan kasar. Karena aku tak dapat lagi membendung kemarahanku sekaligus kesedihan yang telah terjadi padaku hari ini.Sontak saja itu membuat teman sekamarku kaget, karena kebetulan saat ini aku tinggal dalam sebuah pesantren.
“Ada apa cha?? Kok kamu \nangis gini?? Kamu
gak sekolah??” tanya Elya sahabatku dengan nada panik. Tapi aku tidak menjawab pertanyannya. Jangankan untuk menjawab
pertanyaan Elya, mengucapkan sepatah kata saja aku tak sanggup. Gejolak
kesedihan sekaligus kemarahan ini bercampur menjadi suatu perasaan yang tak
ternilai sakitnya. Siapa sih yang suka di bohongi?? Apalagi dibohongi oleh
orang yang kita sayang. Dalam tangis aku hanya bisa mengingat ingat kembali
suatu hal yang telah membuat emosiku labil siang ini.
***
Sudah beberapa bulan terakhir ini aku dekat dengan seorang lelaki
hingga aku memutuskan untuk menjalin sebuah hubungan asmaradengannya, lelaki
yang sangat aku kagumi. Aku mengenalnya melewati sahabatku sendiri, Elya.Kala
itu Elya memperkenalkan aku dengan sepupunya yang bernama Ashfi karena Elya
merasa kasihan melihat aku setiap hari harus menangis karna baru putus dengan
pacarku. Padahal sebenarnya sih kalau dihitung hitung sudah 1 bulan yang lalu
aku putus. Tapi aku belum juga bisa move on, bagiku hal tersulit dalam hidup
adalah move on.Elya bilang bahwa sepupunya itu memiliki sebuah kelebihan yang
sangat berbeda dengan orang-orang pada umumnya.Dia bisa membaca fikiran orang
lain hanya dari namanya saja. Tanpa
melihat wajahnya. Unik sih.. .. sebenarnya aku sudah pernah beberapa kali
mendengar namanya, karena teman-temanku sebenarnya sudah mengenalnya. Hanya
saja saat itu aku tidak ingin tau siapa Ashfi.
“Chacha.. Chacha..mau sampai kapan kamu nangis
terus?? Aku aja capek dengernya” ucap Elya,
“Yah terus bagaimana lagi dong El?? Aku capek. Aku pengen move on
tapi gak bisa” aku masih terus menangis mengingat bahwa sudah 1 bulan ini aku
menyandang status Jomblo.
“Eh lupa yah kan didalam al-quran sudah d jelaskan ada 5 obat
galau. Hehe” kata Elya
“Ah masak sih?? Emang ada??” tanyaku tidak percaya
“Yah ada lah, 1. Membaca Al-qur’an dan maknanya, 2. Melakukan
sholat malam, 3. Berkumpul dengan orang sholeh, 4. Memperbanyak puasa, 5.
Memperbanyak dzikir malam.
“Yeee. Itu mah tombo ati keelleess”
“yah kan benar. Hahaha” Elya langsung tertawa terbahak bahak
menertawakan wajah polosku yang sudah berhasil ia kibuli.
“Eh, nih..” Elya menyodorkan nomor telephon kepadaku yang aku
sendiri tidak tau itu nomor telephone siapa,
“Nomor telephone siapa El??”,
“Itu nomor telephone sepupuku. Eitz.. jangan salah faham dulu. Aku
pengen kamu kenal sama dia dan tanyakan padanya apakah mantan kamu itu masih
cinta sama kamu atau tidak?? Karena sepupu aku itu bukan orang biasa, dia mampu
membaca fikiran orang hanya melewati namanya saja.coba deh hubungi dia” Elya
menjelaskan padaku panjang lebar tentang sepupunya itu, awalnya aku sempat
tidak percaya, masak sih ada orang seperti itu ?? tapi kemudian aku memutuskan
untuk menurunkan egoku untuk menghubungi sepupu Elya, siapa tau dia memang
punya kekuatan magic dan bisa membantuku.
“aku akan coba besok”
bisikku dalam hati.
Aku memang tinggal di pesantren dan aku memang santri.Tapi aku
bukan santri fanatic yang terlalu agamis gitu deh. Hehe.Aku dan teman teman
biasa membawa handphone ke dalam pesantren.Padahal peraturan yang berlaku
adalah santri tidak boleh membawa alat komunikasi apapun kedalam pesantren.Tapi
karena aku bukan santri alim seperti santri-santri lain, jadi aku melanggarnya
diam-diam.
***
Hari itu telah tiba, hari dimana aku ingin merealisasikan niatku
untuk menghubungi Kang Ashfi, aku coba sms dia yang notabene statusnya adalah
sama denganku yaitu seorang santri. Hanya saja kami berada dalam pesantren yang
berbeda.
“Harus semangat sekolah nih pagi ini, karena hari ini aku bakal tau
gimana sih perasaan Rendra yang sebenernya sama aku. Ih aku jadi tidak sabar
deh” Celutukku dalam hati, aku sangat tidak sabar untuk sms kang Ashfi berharap
jawabannya adalah Rendra masih mencintaiku.
“Assalamualaikum Kang, ini saya chacha. Saya
temannya Elya” kira-kira begitulah smsku waktu itu, tak lama kemudian
handphoneku berdering da… sms masuk. Ternyata balasan dari kang Ashfi,
“ waalaikumsalam, iyah chacha, ada
apa ?? ada yang bisa
saya bantu?“
“ begini kang, to the
pint saja yah. Saya ingin tanya sama akang. Saya punya mantan namanya
Rendra.Bulan lalu dia mutusin saya kang.Kira kira Rendra masih sayang sama
saya gak kang??”
“ Hehe, tidak. Dia sudah tidak mencintai kamu lagi.Dia macarin
kamu cuma buat status facebook doang “, what?? Gak mungkin, masak Rendra setega itu sih sama
aku?? gila !! ini benar benar gila!! aku
syok banget melihat balasan sms kang Ashfi seperti itu. Tapi tidak langsung
percaya, Untuk lebih meyakinkan, aku ulang lagi smsku.
“Jadi Rendra tidak mencintai saya,
kang ??“ dan lagi lagi jawabannya adalah TIDAK !!
“Rendra tidak sayang sama kamu, tapi yang
sayang sama kamu itu aku. Hehe“
Aneh ini orang !! gak nyambung tingkat dewa, kata itulah yang
ada dalam benakku kala itu. Tapi percaya atau tidak kata kata itulah yang
menjadi awal dari segalanya. Aku segera
meng-akhiri sms kita karena aku mulai merasa risih. Ketemu saja belum, masak
sudah bilang yang tidak tidak. Hidieh, bikin ilfeel deh.
Seharian di sekolah aku tidak konsentrasi dengan segala pelajaran
yang masuk. Aku masih terlalu syok dan masih belum bisa terima kalau Rendra
bisa setega itu sama aku, hingga bel pulang berdering pun aku tidak
mendengarnya. Aku masih terus melamun dengan bertopang dagu di bangku-ku.
“Cha, udah bel pulang tuh. Ngelamun mulu seharian” Kata Dini teman sebangku-ku,
“Eh iyah. Udah bel yah?? Hehe iyah ke asyikan ngelamun nih” aku
segera pulang ke pesantren. Aku tidak sabar ingin menceritakan semua ini pada
sahabatku Elya.
***
Malam telah menjelma, menyelimuti kabut yang sedang berkecamuk
dalam hatiku. setalah aku menjalani serentetan kegiatan pesantren yang
membuatku ngantuk setengan mati. Kini usailah sudah kegiatan kegiatan itu,
waktunya santai. Aku kembali ke kamar untuk menemui Elya.
“El, sepupu kamu aneh deh“
kataku, Elya pun segera menimpali karena merasa tidak terima sepupunya aku
katain aneh.
“Ih, aneh gimana sih ??“
“yah masak baru pertama kali
sms-an sama aku dia sudah bilang sayang sama aku. Aneh kan?? Bikin ilfeel deh,
Aku ini sedang berjuang mati-matian buat move on El. Eh malah ada cobaan baru“
aku mendengus kesal
“Yah bagus donk Cha, kamu
kan sedang berjuang untuk move on tuh. Yah bagus lah, siapa tau kalian sama
sama cocok terus jadian deh. Hahaha. Oiya, gimana tadi jawaban kang Ashfi??“
“Tidak semudah itu kali El.
Move on itu susah, hemm.. ternyata Rendra macarin aku waktu itu Cuma di pakek
buat status facebook doing El. Sakit banget rasanya”, aku kembali menitikkan
air mata, sakitnya tuh disini!! Sakiiit banget
“Sabar ya Cha, kamu pasti
akan mendapatkan cowok yang jauh lebih baik dari Rendra. Percaya deh, yang
penting kamu jangan menutup hati kamu buat orang lain ya”
“iyah El, makasih ya”, Sepenggal kata itu adalah akhir dari
perbincangan kami malam itu.karena aku memutuskan untuk tidur daripada membahas
Rendra lagi. Karena semakin aku mengingatnya, semakin sakit hatiku.
***
Mentari telah kembali bersinar, entah kenapa aku merasa pagi ini
begitu cerah sehingga mengantarka suasana hatiku ketepian kebahagiaan.Hari ini
aku libur sekolah karena memang tanggal merah, jadi aku bisa bermalas malasan hari ini.Eh..aku merasa
ada yang bergetar di saku rok-ku, oh iyah Hp. Ada sms masuk,
“Selamat pagi chacaha” dari kangAshfi?? Aku segera membalas sms-nya
“Selamat pagi juga kang”.Sejak
balasan smsku waktu itu kita jadi sering smsan dan telphonan. Aku senang karena
ternyata Kang Ashfi orangnya asyik meskipun aku belum pernah bertemu dia
sebelumnya.
"dek, kamu lagi ngapain ?" Tanya kang Ashfi
"santai aja sih kang, aku kan libur sekolahnya.
Akang lagi ngapain ?" Balasku
"lagi mikirin adek :D
"
"haha bisa aja
kang"
Awalnya aku merasa risih dengan semua kata katanya yang sok
ngerayu, ngegombal atau apalah itu Tapi lama kelamaan aku mulai terbiasa dengan
semua perhatiannya sehingga aku merasa ada yang kurang jika dia tidak sms aku
sehari saja. Hubungan kami semakin dekat, terlalu cepat memang, karena aku baru
mengenalnya dan aku sudah nyaman dengannya.
***
Hari yang selama ini ku nantikan telah tiba, Allah memberiku
kesempatan untuk bertemu dengan Kang Ashfi.. Pagi itu adalah hari Jumat, tanpa
kuduga Elya mengajakku untuk bertemu Kang Ashfi karena Elya memang sebenarnya
ada perlu dengannya. Sebenarnya hari Jumat bukanlah hari libur sekolahku, tapi
karena aku yang sudah terlalu penasaran dengan wujud aslinya kang Ashfi, aku
memutuskan untuk blos hari ini dan memilih utnuk menemani Elya. Jadi aku dan
Elya bolos sekolah.
“Cha, kamu ikut aku yah.Nanti aku mau ketemu sama kang Ashfi. Ada
urusan“, ajak Elya, sontak saja aku kaget bercampur seneng.Aku kaget karena aku
takut nanti aku bisa salting kalau sudah berhadapan dengan kang Ashfi, tapi
disisi lain aku juga senang karena pada akhirnya aku bisa bertemu langsung dengannya
“a..apa?? ketemu kang
Ashfi?? Aduh El, aku malu. Takut salting”
“haduh chacha..alay banget
sih, daripada tidak pernah ketemu??”, Elya coba meyakinkanku dan akhirnya aku
pun memantabkan hatiku untuk ketemu kang Ashfi
“yaudah deh iyah aku mau, kapan kita ketemu kang Ashfi??”,
“sekarang”, “Hah?? Sekarang?? Gak sekolah dong??”
“Halah sehari doing” Elya masih berusaha membujukku. Akhirnya
dengan segala macam pertimbangan akupun meng-iyakan ajakan Elya
“yaudah aku siap siap dulu”
“Nah gitu dong cantik” setelah siap siap dan
segala macem akhirnya pagi itu lah pertama kalinya aku bisa memandang kang
Ashfi secara life, saling bertatap mata, dan kemudian saling menundukkan
pandangan.Aku masih ingat jelas senyum yang terukir di bibirnya saat aku diam
diam mengangkat kembali wajahku dan melihatnya menundukkan kepala sambil
tersenyum. Kala itu kita masih malu-malu ntuk berbicara. Sehingga tanpa ngobrol
apapun Elya langsung pamit untuk kembali ke pesantren setelah urusannya dengan
kang Ashfi selesai.
Setelah pertemuan pertama itu, aku dan Kang
Ahfi jadi semakin dekat. Kang Ashfi sangat perhatian padaku. Dari situlah diam
diam ada yang mulai tumbuh dalam lubuk hatiku, aku tidak tau perasaan apa yang
saat ini sedang tumbuh dalam bilik hatiku hanya saja aku selalu merasa bahagia
tiada tara jika aku bertemu dengannya ketika aku mendapatkan izin untuk keluar
dari pesantren karena kepentingan tertentu. Bagiku kang Ashfi itu berbeda,
sangat berbeda. Yang aku tau dia faham betul masalah agama dan dia juga jago
beladiri. Dalam pandanganku dia memang terlihat mempesona, meski mungkin dalam
penilaian orang lain dia terlihat biasa. Aku suka memandang dagunya yang lancip
dan alisnya yang selalu naik turun ketika berbicara. Mungkin orang orang akan
menyalahkanku jika aku lebih suka memandangnya, karena ajaran dalam pesantren
kami dilarang berpandangan dengan lawan jenis terlalu lama itu sama saja dengan
zina mata. Tapi aku bukan santri sejati, hehe. Aku memang tinggal di pesantren,
tapi aku bukan santri fanatic. Aku biasa saja seperti remaja remaja pada
umumnya yang juga ingin mengenal cinta, merasakan bagaimana di cintai, dan
memandang keindahan dari orang yang kita cintai. Aku belum berani cerita ke
Elya soal ini, biarlah gejolak hati ini menjadi rahasia hatiku dulu sampai
semuanya benar-benar jelas. Tanpa aku sadari kini pikiranku telah bersih dari nama Rendra, aku sendiri tidak
tau sejak kapan. Yang jelas Kang Ashfi adalah alasan di balik ini semua.
Waktu terus berjalan hingga akhirnya kang
Ashfi mengutarakan perasaannya padaku bahwa dia sangat menyayangiku dan enggan
menyakitiku. Dia ingin membuatku bahagia, akupun demikian aku juga sangat
menyayangi kang Ashfi aku ingin menata kebahagiaan bersamanya.
“Dek aku sayang banget sama kamu”
awalnya aku kaget sekaligus bahagia karena
ternyata perasaan ini tidak bertepuk sebelah tangan. Perasaan ini telah
berbalas dengan sempurna
“sebenarnya aku juga sayang sama akang, aku
ingin seperti ini terus dengan kamu kang”,
“iyah dek”
senyum
itu.. yah.. lagi lagi senyum itu membisuku, menarikku ke sebuah gelombang cinta
yang membara. Setelah sekian hari aku berusaha
untuk move on, kini hatiku telah kembali berlabuh. Berlabuh dalam persinggahan
baru yang jauh lebih indah.
“Adek, mau jalan jalan gak??”, Tanya kang Ashfi, aku tau ini
kode-kode dia ngajakin aku jalan. Aku senang sekali, aku hanya perlu mencari
alasan untuk izin ke keamanan pondok agar aku bisa keluar dari pesantren ini.
“Emang jalan jalan kemana kang??”
“Yah kemana gitu dek, terserah adek aja”
“Kang Ashfi tau danau cinta gak??”
“Enggak, memangnya itu dimana dek??
“Ya
Allah Kang, danau cinta itu yang dekat sama pondokku itu loh”
“Hehe nggak tau dek. Tapi kalau jadi yah dek.
Soalnya akang juga gak mau kalau adek sampai bohongi pengurus cuma gara gara
ketemuan sama akang”
gila, kata katanya benar benar membuatku
salut. Waktu itu akang memang tidak sedang di pesantren, sedang liburan di
rumah jadi berani untuk ngajakin aku jalan
“yaah akang, kok gitu sih, kan aku pengen
jalan sama akang”
“yaudah kalau gitu kalau liburan saja yah dek”
“yaudah deh kang. Terserah akang saja”
aku senang sekali hari itu. Aku merasa aku adalah orang yang palin
bahagia hari itu. Pernah beberapa kali juga kita
berbicara tentang kedepannya hubungan kita. Meskipun sebenarnya mungkin belum
saatnya kita berbicara tentang hal itu, karena kala itu aku masih kelas SMA dan
kang Ashfi adalah kakak kelasku.
Hari itu juga kita jadian, setelah kita sama sama tau tentang
perasaan kita. Memang tidak seperti
orang jadian pada umumnya dengan mengatakan maukah kamu jadi pacarku?? Tapi
cinta kita bersemi dalam diam. Sejak awal kang Ashfi sudah mengatakan padaku
bahwa dia tidak mau macam-macam atau pacaran seperti anak remaja pada umumnya. Pelukan,
ciuman atau apalah itu.akupun demikian, aku juga tidak ingin mengotori cinta
kita dengan hal hal seperti itu. Bukannya aku munafik, tapi memang aku tidak
ingin melakukannya. Hari demi hari telah kita lalui bersama, kang Ashfi begitu
baik padaku.Aku selalu merasakan kasih sayangnya yang tidak pernah berkurang,
aku tidak pernah bisa berhenti memikirkannya, apalagi beberapa teman
pesantrenku mengatakan aku sangat beruntung mendapatkan laki-laki seperti dia.
Itu benar-benar membuatku bangga dan semakin mencintainya.Biarkan penjara suci
ini memisahkan kita, biarkan aku hanya mencintai
dalam diam, biarkan rindu ini terus bergelayut dalam hatiku merengek rengek
memaksa nafsuku untuk bertemu.Tapi aku selalu menahannya.Aku sadar tidak setiap
waktu aku bisa bertemu dengan kang Ashfi.Dan justru itu yang membuatku bertahan
bersamanya, karena rindu ini yang terus bergejolak.Aku tidak pernah memikirkan
suatu hal yang negative sedikitpun. Aku selalu berfikir positif tentang kang
Ashfi, aku selalu berfikir positif kalau kang Ashfi hanya mencintaiku dan akan
menjaga hatinya untukku hingga kita sama sama terbebas dalam penjara yang suci
ini. Setiap perkataan orang yang tidak enak selalu ku tepis dengan fikiran
positif ku.Bagaimanapun juga kang Ashfi adalah laki laki yang sudah membuatku terbang
dalam keindahan setelah aku benar benar terjatuh karena kelakuan Rendra.
***
1 bulan ini hari hariku menjadi jauh lebih indah sebelum akhirnya
seorang temanku mendatangiku di suatu malam setelah aku sekolah diniah di
pesantren. Seorang temanku Amey malam itu mendatangiku di kamar, katanya dia
ingin berbicara sesuatu padaku. Aneh sih, biasanya Amey tidak pernah berbicara
serius padaku.
“Kamu mau bicara apa Amey?? Tumben tumbenan sih” tanyaku pada Amey
“Emm.. ayo Cha ikut aku ke ruang sebelah saja” kata Amey, aku
langsung meng-iyakan ajakan Amey karena penasaran. Aku segera bangkit dari
tempat dudukku. Setelah sampai di ruangan yang dituju Amey aku langsung menanyakannya
dengan tidak sabar.
“Ada apa sih Mey??”
“Jadi begini Cha, sebenarnya aku tidak bermaksud untuk
menghancurkan kebahagiaan kamu saat ini” ucap Amey yang malah membuatku bingung
“Aku gak ngerti apa maksud kamu menghancurkan kebahagiaanku. Apaan
sih Mey? Yang jelas dong”
“Oke jadi gini Cha, kamu tau kan kalau aku sudah kelas sama kang
Ashfi??”
“Iyah tau” aku masih terlihat oon karena tidak tau apa yang di
maksud Amey
“Cha, kemarin kang Ashfi sms aku, dia bilang kalau sebenarnya….”
Amey memotong ucapannya. Ada apa sih ini??
“sebenarnya apa Mey? Kamu jangan bikin aku tambah penasaran gini
dong”
“sebenarnya kang Ashfi itu tidak cinta sama kamu Cha. Selama ini dia cuma menganggap kamu adik atau
tidak lebih dari sekedar teman, Cha”, apa?? Ada apalagi ini ?? ya
Allah…
“gak, gak mungkin Mey, lalu kenapa dia bilang
sayang sama aku?? Kenapa dia care
sama aku ?? kenapa dia pengen jalan jalan sama aku ?? kenapa Mey??”
tanpa terasa setitik embun telah keluar dari kedua sudut mataku, pipiku basah,
aku tak dapat lagi membendung air mataku. Amey pun sepertinya mulai panic dan
ikutan sedih
“begini Cha, dia memang sayang sama kamu. Tapi dia tidak mencintai
kamu Cha. Kemaren dia selalu perhatian sama kamu, ngajakin kamu jalan, sayang
sama kamu itu karena dia kasihan sama kamu Cha. Dia tidak tega menyakiti kamu,
dia bilang kalau sayangnya itu kamu artikan berbeda. Maafkan aku Cha, aku harus
menyampaikan ini semua karena aku tidak mau temanku tersakiti terus menerus dan
terus terusan di bohongi kang Ashfi”
“tidak apa apa Mey, kamu benar. Terimakasih ya Mey, aku kembali dulu ke kamar”. Aku langsung pergi
begitu saja tanpa melihat ekspresi wajah Amey terlebih dahulu, aku yakin Amey
juga mengerti kondisiku saat ini. Aku butuh ketenangan, aku butuh istirahat.
Aku segera masuk kamar dan menceritakan semuanya pada Elya. Dan benar dugaan
ku, Elyapun kaget mendengar ceritak
“Apa?? Tega banget sih Kang
Ashfi, tapi…. Aku mintak maaf ya Cha, aku tidak bisa ikut campur begitu saja
masalah kamu dengan kang Ashfi. Aku ingin sekali membantu kamu, tapi aku tidak
tau bagaimana caranya” aku hanya bisa menangis malam itu, aku tidak butuh
bantuan siapa siapa untuk menenagkanku, aku hanya butuh waktu untuk sendiri dan
bertemu dengan kang Ashfi, aku ingin mengatakan semua ini padanya. Aku tidak
terima, aku sudah terlalu sakit dengan segala perlakuannya. Lebih baik kang
Ashfi jujur di awal kalau dia tidak mencintaiku, seharusnya kang Ashfi tidak
begitu perhatian padaku, seharusnya kang Ashfi tidak member harapan palsu
padaku. Dia telah membohongiku. Dan aku sangat benci kebohongan.
“El, aku tidur dulu yah” itu adalah kata terakhirku karena aku tak
lagi mampu membendung emosiku, dan aku lebih memilih tidur daripada harus marah
marah menuruti emosiku yang benar ebnar labil malam itu. dan sepertinya Elya
mengerti, dia hanya menganggukkan kepalamya. Aku segera berbaring di kasur,
menutupi mukaku dengan selimut tebal, aku ingin menyembunyikan tangisku pada
semua orang. Mereka yang dulu memujiku karena keberuntunganku mendapatkan laki
laki seperti kang Ashfi, kini semua itu telah berakhir. Aku adalah korban dari
pembodohannya. Malam itu juga aku sms kang Ashfi
“Kang, besok aku mau ketemu jam setengan 7 pagi di tempat biasa”,
tak lama kemudian sms dari kang Ashfi pun masuk
“Ada apa dek?? Tumben. Yasudah besok kebetulan akang lagi di luar,
jadi kita bisa ketemu”, aku tidak membalas lagi sms kang Ashfi karena
mengingatnya saja sudah membuatku sakit.
***
Pagi telah menjelma, aku segera bangun tidur dengan mata yang super
duper bengkak. Lari ke kamar mandi dan segera membersihkan diri. 1 jam kemudian
aku telah siap untuk bertemu kang Ashfi. Aku sengaja tidak iku pelajaran
pertama hari ini, aku baru ikut pelajaran kedua nanti siang karena aku ingin
bertemu kang Ashfi untuk membicarakan persoalan nanti malam. Setelah sampai di
tempat makan yang biasa kita datangi, aku langsung melihat sekelilingku. Aku
melihat kang Ashfi sudah duduk disana dan menyapaku setelah dia melihatku
berjalan ke arahnya.
“Hey dek, gimana kabarnya pagi ini??” Tanya kang Ashfi
“Baik”
“Judes banget dek, kenapa?? Cerita dong” rayunya
“Kang, aku gak mau bertele tele yah, langsung saja”
“Langsung saja kenapa dek?”
“Aku sudah tau semuanya kang?” kataku dengan sinis
“sudah tau apa dek??”
“Gak usah berpura-pura deh kang !! akang anggap apa aku selama
ini?? Boneka ?? mainan ?? apa kang ?? kang Ashfi tega yah sama
aku” mataku mulai berkaca-kaca, aku sudah tidak sanggup lagi menahan amarahku
“dek, akang gak faham apa maksudnya” sepertiny kang Ashfi memang
terlihat kebingungan atau dia sok tidak tau.
“Kamu tidak pernah cinta sama aku kan kang?? Selama ini segala
perhatian kamu, kata sayang kamu ke aku itu semua bulshit kan?? Bulshit kan
kang?? Akang tega yah sama aku!!”
“Cha, kamu jangan salah faham dulu. Aku Cuma gak mau kamu sedih,
aku gak mau menyakiti kamu. Aku tau kamu sayang sama aku, kamu cinta sama aku.
Aku sudah baca fikiran kamu, tapi…. Aku memang hanya menganggap kamu adik.
Maafkan aku cha, aku sudah tidak jujur sama kamu”
“Terlambat kang, semuanya sudah terlambat. Aku sudah gak percaya
lagi sama akang. Kang Ashfi jahat, pembohong!!” akupun segera pergi
meninggalkan kang Ashfi, tapi tanpa aku sadari kang Ashfi mengejarku dan
memegang tanganku, coba menghentikan langkahku.
“ada apa lagi kang?? Belum puas udah nyakitin
chacha??”
“Cha, maafin aku. Aku nyesel cha. Aku mohon
kamu maafin aku“
“Telat kang, akang tau gak?? Sakitnya tuh
disini kang”
Lalu aku lari menjauh dari kang Ashfi, sekilas
aku melihatnya dia sudah tidak mengejarku lagi. Mungkin
dia memang benar benar menyesal atau sudah capek mengejarku ?? ah
sudahlah.. aku tidak ingin lagi berhubungan dengan pembohon seperti dia. Aku
sudah cukup tersakiti dengan cinta palsunya. Aku segera mencari angkutan kota
untuk mengantarkanku kembali ke pesantren, tapi sebelumnya aku menghubungi Dini
teman sebangkuku untuk mengizinkanku pada guru kalau hari ini aku izin tidak
masuk sekolah. Aku merasa tidak sanggup untuk menghadapi pelajaran sekolah pagi
ini. Aku masih sangat terpukul atas kejadian beberapa menit yang lalu. Aku
hanya ingin kembali ke pesantren dan menceritakan semuanya pada Elya karena aku
tau hari ini sekolah Elya sedang ada acara dan semua murid di liburkan.
Kini aku sadar, bahwa tidak semudah itu mendapatkan cinta dari
seseorang yang baru kita kenal. Aku sadar bahwa tidak semua yang orang lihat
baik adalah baik. Ini memang sangat berat buatku, tapi di samping itu aku bisa
mengambil hikmah dari semua cobaan yang Allah berikan padaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar